Punya Hutan Sagu Terluas di Dunia, Tapi Warga Papua Sulit dapat Sagu

Punya Hutan Sagu Terluas di Dunia, Tapi Warga Papua Sulit dapat Sagu

- detikFinance
Kamis, 04 Sep 2014 10:16 WIB
Punya Hutan Sagu Terluas di Dunia, Tapi Warga Papua Sulit dapat Sagu
Direktur Utama Perhutani Bambang Sukmananto
Sorong - Papua merupakan salah satu daerah di Indonesia yang penduduknya memiliki makanan pokok berupa sagu. Tak heran karena Bumi Cendrawasih memiliki hamparan pohon sagu terluas di dunia.

Total lahan sagu di pulau Papua mencapai 2 juta hektar. Salah satunya adalah di daerah Sorong, Papua Barat.

Meski memiliki lahan sagu terluas di dunia, warga Papua justru kesulitan jika ingin membeli tepung sagu untuk diolah menjadi makanan. Secara tradisional, untuk mengolah pohon sagu menjadi tepung diperlukan waktu rata-rata 2 minggu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini yang mendasari Perum Perhutani membangun pabrik pengolahan sagu raksasa dan modern di Kais, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat.

"Di sini tempatnya sagu, tapi susahnya dapat sagu luar biasa," kata Direktur Utama Perhutani Bambang Sukmananto di Teminambuan, Sorong Selatan, Kamis (4/9/2014).

Bambang menjelaskan, Indonesia saat ini baru memiliki pabrik sagu berkapasitas kecil di daerah Sumatera. Bahkan produksi sagu Indonesia tidak mampu mengungguli Malaysia.

"Saingan sagu ya Malaysia. Dia ekploitasi di Serawak. Di Riau ada pabrik sagu tapi nggak besar," sebutnya.

Pohon sagu di Papua memiliki keunggulan dibanding di Malaysia. Di Papua, pohon sagu mampu menjulang tinggi hingga 12 meter sedangkan pohon sagu di Malaysia relatif pendek.

"Spesies sagu di Malaysia nggak seperti di sini. Di sana (Malaysia) nggak ada hamparan luas. Kualitas sagu Papua juga lebih baik karena kandungan nutrisi bagus. BPPT juga sudah melakukan penelitian," papar Bambang.

Saat beroperasi pada Maret 2015 nanti, pabrik milik perusahaan pelat merah ini bisa menghasilkan tepung sagu mencapai 100 ton per hari. Sagu hasil olahan dari Kais akan dijual ke konsumen dan industri nasional bahkan untuk pasar ekspor jika dimungkinkan.

Setelah produksi normal, Perhutani berencana menafaatkan sagu sebagai produk bio ethanol atau bahan bakar nabati. "Ke depan dibikin bio ethanol," ujarnya.

Sedangkan untuk dukungan kelistrikan di area pabrik, Perhutani akan dibantu PT PLN Enjiniring. Anak perusahaan PLN itu akan menyediakan listrik untuk pabrik sagu.

PLN Enjinering membangun pembangkit listrik biomassa. Bahan baku bisa memanfaatkan kombinasi limbah sagu dan batu bara. Total kebutuhan listrik pabrik mencapai 1,5 mega watt (MW). Sisa pasokan akan dipakai untuk melistriki pemukiman warga di sekitar pabrik.

"PLN nanti yang bangun. Energi kita beli, kelebihannya bisa untuk masyarakat," tuturnya.

Meski membangun pabrik sagu besar di Papua, Perhutani hingga kini belum memperoleh bantuan pemerintah seperti yang dijanjikan sejak awal. Pemerintah sebelumnya menjanjikan pembangunan akses jalan dan pelabuhan di area pabrik.

"Janjinya adalah pelabuhan dan jalan. Perhutani nggak mungkin bangun sendiri karena industri mau bangun di situ kecuali BUMN," sebutnya.

(feb/hds)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads