Namun sayangnya, pasca terciptanya perdamaian justru yang menikmati negara-negara tetangga melalui investasi mereke di dua negara tersebut.
"Negara Kamboja 15 tahun lalu negeri ini penuh konflik. Perdana Menteri saat itu Norodom Sihanouk terus meminta dukungan kepada Presiden Soeharto. Indonesia adalah negara yang memasang badan paling depan demi tercapai sebuah solusi damai di negara itu," kata Bayu saat memulai Kuliah Umum di Gedung Rektorat Universitas Sam Ratulangi, Manado, Kamis (4/09/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang sedih, saat Kamboja susah, Indonesia yang paling terdepan memasang badan tetapi saat Kamboja senang yang masuk (sebagai investor) justru Singapura, Malaysia, Thailand," katanya.
Hal yang sama juga terjadi pada kasus Myanmar. Bayu mengatakan Menteri Luar Negeri Indonesia aktif menolong dan menjamin agar tokoh nasional Myanmar Aung San Suu Kyi dibebaskan.
Padahal Amerika Serikat ingin memberi sanksi politik kepada Myanmar, tetapi lagi-lagi Indonesia memasang badan menjamin terciptanya situasi politik dan ekonomi kondusif di Myanmar.
"Lalu Myanmar tercapai kondisi damai dan demokratisnya ketika pindah Myanmar memindahkan ibukota dari Yangon, mereka bangun 20 jalur jalan, bangun gedung baru. Yang dapat bisnisnya, yang jadi konsultan jalan, yang suplai aspal dan semen siapa? Banyak negara tetapi bukan Indonesia," katanya.
Ada dua masalah besar yang menjadi masalah mendasar kenapa hal itu terjadi. Pertama adalah pengetahuan Indonesia tentang negara ASEAN itu kecil. Kedua adalah pengusaha Indonesia lebih nyaman berinvestasi dan berdagang di negaranya sendiri.
"Seberapa besar kita tahu peraturan konsumen kayak apa, lalu pasarnya bagaimana. Seperti main bola, kita jangan hanya bertahan tetapi harus buat gol," saran Bayu.
(wij/hen)










































