Sudah sejak 2010, LVMH mengoleksi saham Hermes, ada yang melalui pembelian terbuka namun ada juga yang secara diam-diam melibatkan perusahaan lain dan skema investasi yang rumit.
Siapa sebenarnya yang mengambil kebijakan untuk membeli saham Hermes tanpa diketahui banyak orang itu? Ia adalah Bernard Arnault, pemilik Groupe Arnault yang menaungi perusahaan fesyen kelas dunia, seperti LVMH, Dior, dan lain-lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kekayaannya ini sudah bertambah lagi dibandingkan posisi tahun lalu yang hanya US$ 29 miliar (Rp 290 triliun).
Melalui LVMH, Bernard merilis berbagai macam produk mahal mulai dari minuman beralkohol, fesyen, parfum, kosmetik, jam, sampai perhiasan. Salah satu lini bisnisnya yang paling terkenal adalah Louis Vuitton.
Sejak 2010, LVMH sudah membeli saham Hermes secara diam-diam waktu itu hanya 14,2% saham. Setelah itu sahamnya terus dikumpulkan hingga mencapai 23%.
Sekarang nilai sahamnya sudah mencapai 6,8 miliar euro (Rp 100 triliun). Bisa dibayangkan betapa kagetnya keluarga Hermes mengetahui hal ini. Efeknya, dewan komisaris dan direksi Hermes menutup semua celah supaya tak ada lagi saham yang bocor ke LVMH.
Akhirnya kedua pihak, yang difasilitasi pengadilan perdata Prancis, sepakat untuk mengakhiri perang dingin ini. LVMH pun diminta mengembalikan saham Hermes dan selama lima tahun ke depan dilarang membeli saham produsen scarf dan tas mewah tersebut.
LVMH juga sudah mendapatkan keuntungan investasi dari pertumbuhan saham Hermes yang dikoleksinya ini. Sejak saham Hermes dipegang Oktober 2010 lalu, LVMH sudah menikmati pertumbuhan saham Hermes hingga 64%.
Jadi selama hampir lima tahun pegang saham produsen scarf dan tas mewah itu, LVMH sudah untung sekitar 2,8 euro (Rp 42 triliun).
(ang/dnl)











































