Pada Oktober 2010, LVMH mulai membeli saham Hermes secara diam-diam waktu itu hanya 14,2% saham. Setelah itu sahamnya terus dikumpulkan hingga mencapai 23% dan nilainya mencapai 6,8 miliar euro (Rp 100 triliun).
Lalu bagaimana caranya sebuah perusahaan bisa mengakuisisi saham perusahaan lain senilai Rp 100 triliun tanpa diketahui banyak orang? Groupe Arnault yang merupakan induk usaha LVMH yang bisa melakukannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perusahaan milik orang terkaya di Prancis Bernard Arnault itu menugaskan LVMH dan Christian Dior Couture mengerahkan anak-anak usahanya untuk membeli saham Hermes secara bertahap.
Nah, jika kepemilikan anak dan cucu usahanya ini ditarik ke atas maka Groupe Arnault menguasai hingga 23% kepemilikan saham di Hermes. Cara pembelian saham ini juga pernah dilakukan Groupe Arnault saat menguasai 8,43% saham Carrefour.
Hal ini yang menimbulkan perang dingin di antara LVMH dan Hermes. Akhirnya kedua pihak, yang difasilitasi pengadilan perdata Prancis, sepakat untuk mengakhiri perang dingin ini.
Pemegang merek Louis Vuitton itu pun diminta mengembalikan saham Hermes dan selama lima tahun ke depan dilarang membeli saham produsen scarf dan tas mewah tersebut.
Divestasi saham ini justur menguntungkan LVMH, karena selain bisa mendapat dana segar hingga Rp 100 triliun, LVMH juga mendapat keuntungan investasi selama hampir lima tahun pegang saham Hermes.
Sejak saham Hermes dipegang Oktober 2010 lalu, LVMH sudah menikmati pertumbuhan saham Hermes hingga 64% atau sudah untung sekitar 2,8 euro (Rp 42 triliun).
(ang/dnl)











































