Demikian disampaikan Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Firmanzah dalam sambutannya di Acara Refleksi Tiga Tahun Kemajuan MP3EI di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (5/9/2014).
"Kita harus mengaku kita kurang infrastruktur dan sektor riil bahwa banyak antrean truk, kekurangan listrik, dan lain-lain, kita mengakui bahwa kita kurang itu semua jadi kita ciptakan MP3EI, ini kebutuhan," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu, perlu dilakukan alternatif pembiayaan infrastruktur melalui penerbitan obligasi daerah. Menurutnya, setiap daerah punya potensi untuk bisa mengembangkan infrastrukturnya masing-masing.
"Kita perlu infrastruktur kalau nggak gitu kita impor terus dan infrastruktur tidak bisa seluruhnya didanai APBN, Rp 2.000 triliun dana APBN semuanya buat infrastruktur juga tidak cukup. Saya sepakat agar Pemda bisa diberikan kewenangan dan otoritas bisa lebih strategis dalam pendanaan agar ujung tombak MP3EI itu ada di daerah bukan pusat, sektor riil ada di daerah jadi pusat faislitasi dan mendorong daerah," jelas dia.
Namun begitu, Firmanzah mengakui, perekonomian Indonesia terus menunjukkan perbaikan setelah terhempas krisis moneter di tahun-tahun sebelumnya. Indonesia mampu bangkit dari keterpurukan, berbeda dengan Eropa yang masih harus berjuang untuk bisa bertahan menghadapi krisis ekonomi.
"Kita baru setahun dapat investment grade di 2010 tapi kita di 2011 berani mencanangkan MP3EI. 13 tahun setelah krisis 1998 kita berani meluncurkan program yang sangat ambisius yaitu MP3EI. Kalau lihat Eropa 2008 kena krisis fiskal dan mereka tidak bisa keluar dari krisis, jadi tidak semua negara memiliki kekuatan bangkit dari krisis. Indonesia punya komitmen dan jelas bahwa infrastruktur kurang sehingga perlu dibangun," jelas dia.
(drk/ang)










































