Pertumbuhan Ekonomi Capai 5-6 %
BI: Tekanan Inflasi 2005 Berat
Jumat, 07 Jan 2005 10:24 WIB
Jakarta - Bank Indonesia memperkirakan perekonomian Indonesia pada tahun 2005 akan membaik dengan pertumbuhan sekitar 5-6 persen. Namun demikian BI mengingatkan pada tahun 2005 akan ada risiko kenaikan inflasi sebagai dampak rencana pemerintah menaikkan BBM. Demikian salah satu poin hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang hasilnya diterima detikcom, Jumat (7/1/2005).Hasil RDG menyimpulkan, stabilitas ekonomi makro yang telah terpelihara di tahun 2004 akan memberikan pondasi yang semakin kokoh bagi peningkatan ekonomi di tahun 2005 serta tahun-tahun mendatang. Stabilitas ekonomi makro yang telah terbangun dalam dua tahun terakhir itu tercermin dari relatif rendahnya inflasi dan nilai tukar sehingga berhasil mengurangi biaya untuk memelihara kestabilan tersebut. Kondisi ekonomi makro tersebut telah mendorong peningkatan kegiatan investasi pada semester dua tahun 2004 yang diperkirakan akan berlanjut di tahun 2005. Dengan peningkatan kegiatan investasi tersebut yang dibarengi dengan pertumbuhan konsumsi yang cukup tinggi, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan mencapai 5%-6% pada tahun 2005.Namun demikian BI mengingatkan, pada tahun 2005 terdapat beberapa faktor risiko yang perlu diwaspadai terutama terkait risiko tekanan inflasi. Risiko peningkatan tekanan inflasi pada tahun 2005 terutama terkait dengan meningkatnya ekspektasi inflasi berkenaan dengan rencana kenaikan harga-harga administered, terutama harga BBM. Oleh karena itu, strategi penyesuaian harga-harga administered akan sangat mempengaruhi pencapaian target inflasi tahun 2005 yang ditetapkan Pemerintah sebesar 6 persen plus minus 1 persen.Meski ada risiko tersebut, BI menilai dengan upaya Pemerintah untuk menjaga defisit APBN tahun 2005 pada tingkat yang aman akan memberi dampak positif bagi stabilitas ekonomi makro. Di sisi keseimbangan eksternal, BI memperkirakan transaksi berjalan masih akan mengalami surplus sementara transaksi modal diperkirakan akan membaik. Namun, BI akan tetap mewaspadai beberapa faktor risiko yang berpotensi dapat menimbulkan tekanan terhadap stabilitas ekonomi makro ekonomi. Menghadapi meningkatnya potensi tekanan inflasi tersebut, kebijakan moneter ke depan tetap diarahkan pada upaya mencapai sasaran inflasi yang telah ditetapkan, namun dengan tetap menjaga momentum pertumbuhan yang sedang terjadi. Secara operasional, kebijakan moneter tersebut dilakukan dengan mengarahkan uang primer berada pada proyeksi indikatifnya yakni rata-rata tumbuh sebesar 11,5 - 12,5 persen pada tahun 2005. Untuk meningkatkan efektivitas kebijakan moneter, BI akan menggunakan suku bunga sebagai instrumen kebijakan moneter pada pertengahan tahun 2005. Penggunaan target operasional suku bunga sebagai pengganti base money dalam pengendalian moneter ini juga dimaksudkan agar kebijakan moneter lebih fleksibel dalam merespon dinamika perekonomian yang terjadi serta sinyal kebijakan ini yang lebih mudah dibaca oleh pasar.
(qom/)











































