Kepala Satuan Kerja Waduk Jatigede, Airlangga Mardjono menceritakan, pembangunan waduk ini digagas sejak pada 1963. Tujuan utamanya adalah untuk menampung, menambah irigasi, serta penyaluran air.
"Itu digagas tahun 1963, pas masih Orde Lama. Baru ditindaklanjuti dengan detail design itu tahun 1988," kata Airlangga saat dihubungi detikFinance, Jumat (12/9/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam kurun waktu itu, banyak perencanaan dan desain. Mungkin dalam rangka pencarian sumber pendanaan juga, karena memang cukup besar biayanya," lanjut Airlangga.
Kala itu, tambah Airlangga, tepatnya pada 1982, meski engineering design waduk terbesar kedua setelah Jatiluhur itu belum dibuat, proses pembebasan lahan sudah dilakukan. Sejumlah warga sudah mulai diberikan uang kompensasi.
"Baru 2007 terkontrak konstruksinya. Jadi selama itu memang kegiatannya baru sifatnya non fisik. Tapi pembebasan lahan sejak tahun 1982," katanya.
Waduk Jatigede di Sumedang adalah waduk terbesar kedua setelah Jatiluhur. Waduk ini berkapasitas tampungan air sebesar 1 miliar kubik.
Deputi Sarana dan Prasarana Bappenas Dedy S Priatna menyebut, waduk ini bakal diari pada bulan November tahun ini.
(zul/hds)











































