"Masalah Jakarta yang sesak dan macet itu tidak selesai dengan jalan tol. Tapi peningkatan transportasi umum," ungkap Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio dalam konferensi pers di Gedung Sarinah, Jakarta, Jumat (12/9/2014)
Menurutnya permasalahan ini bukan hanya terjadi di Jakarta, namun juga pada kota-kota besar lainnya di dunia. Kota tetap masih macet, meskipun jalan tol dibangun semakin banyak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Langkah mengurangi kemacetan harusnya dengan pengurangan jumlah kendaraan yang ada. Menurut Agus akan terwujud bila disediakan alternatif angkutan umum yang layak.
"Disediakan angkutan umum, tidak mahal, terintegrasi, aman nyaman. Orang akan pindah ke angkutan umum dari angkutan pribadi. Karena merasa fasilitasnya sama," jelasnya.
Jakarta sudah memiliki Trans Jakarta dan KRL. Agus mengakui keberadaan angkutan tersebut belum terhitung belum sempurna. Akan tetapi, itu harus terus dikembangkan dengan berbagai cara melalui dukungan pemerintah.
"Pembangunan dan peningkatan transportasi yang ada masih lebih lamban dibandingkan dengan pertumbuhan manusianya," kata Agus.
Pada kesempatan yang sama, Pengamat Transportasi Darmaningtyas menyampaikan porsi ideal transportasi umum adalah 60% dari total kendaraan yang tersedia. Sedangkan saat ini baru mencapai 13%.
"Kalau sekarang ditambah lagi bangun jalan tol. Target 60% itu tidak akan tercapai," terang Darmaningtyas.
Dalam konsep Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW) provinsi DKI Jakarta, ada konsep jangka panjang transportasi umum. Khususnya bus trans Jakarta yang akan berjumlah 38 koridor. Saat ini baru tersedia 12 koridor.
"Saya masih orang yang berpikir waras, kalau peningkatan transportasi umum lebih jadi solusi dibandingkan membangun jalan tol," tukasnya.
(mkl/hen)











































