Kritik Konsumen Soal e-Toll, Mulai Struk Habis Sampai Harga Mahal

Kritik Konsumen Soal e-Toll, Mulai Struk Habis Sampai Harga Mahal

- detikFinance
Senin, 15 Sep 2014 12:12 WIB
Kritik Konsumen Soal e-Toll, Mulai Struk Habis Sampai Harga Mahal
Jakarta - Konsumen e-Toll Card dan e-Toll Pass telah merasakan mudahnya bertransaksi non tunai di jalan tol. Namun bukan berarti tidak ada kritik, karena masih ada hal yang harus diperbaiki.

Pembaca detikFinance bernama Arief menceritakan pengalamannya menggunakan e-Toll Card. Memang di satu sisi dia sangat terbantu, tapi terkadang ada masalah saat ingin bertransaksi di gerbang tol.

"Toll card memang sangat membantu pada saat macet di pintu tol, beberapa kali saya sangat terbantu pada saat seperti ini. Tetapi seringkali struk yang ada habis, sehingga saya tidak mendapat struk pembayaran tol. Padahal ini saya perlukan untuk dapat melakukan klaim ke kantor," paparnya dalam surat elektronik, Senin (15/9/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Klaim ke kantor, lanjut Arief, sangat dibutuhkan untuk ruas-ruas tol yang tarifnya mahal.

"Misalnya pintu tol JORR kalau kita masuk dari Serpong ke Pondok Indah, tarifnya sekarang Rp 16.000. Beberapa kali pada jam yang cukup padat struk e-Toll Card habis dan ini tidak ada yang melayani," katanya.

Masalah lain, tambah Arief, adalah pintu Gerbang Tol Otomatis (GTO) yang tidak terbuka. Padahal, saldo di kartu masih cukup untuk bertransaksi.

"Ini juga tidak ada petugas yang dapat membantu sehingga saya harus memberitahukan pengendara di belakang untuk pindah gerbang," ujarnya.

Pembaca lain yaitu Hendriawan juga punya sederet keluhan selama menggunakan e-Toll Card. Pertama adalah cukup sulit mencari informasi sisa saldo yang ada di kartu.

"Saya pernah terjebak di GTO TMII masuk Tol Dalam Kota. Petugas dipanggil tidak ada yang membantu. Memalukan sekali," tegas Hendriawan.

Kedua, lanjut Hendriawan, adalah transaksi terekam lebih dari sekali. "Kejadiannya di GTO Pondok Pinang. Akhirnya saldo saya habiskan di loket yang ada petugas," ujarnya.

Ketiga, tambah Hendriawan, adalah transaksi di GTO terkadang bisa lebih lama dibandingkan tunai. "Transaksi menggunakan e-Toll lebih lama dibanding menggunakan uang pas atau kembalian minimum. Misalnya membayar dengan pecahan Rp 10.000 untuk tarif Rp 8.500 di JORR," jelasnya.

Keempat, demikian Hendriawan, harga kartu yang ditawarkan cukup mahal. "Saya lihat ada sales e-Toll di gerbang tol Pasar Minggu. Bayar Rp 50.000 dapat saldo Rp 30.000. Wow, kartunya mahal sekali ya," katanya.

Saat ini, Hendriawan mengaku kartu e-Toll miliknya hilang. Dia pun tidak akan menggantinya sebelum berbagai masalah tersebut terselesaikan.

"Kartu e-Toll di rumah saya sudah hilang entah ke mana. Saya berjanji tidak akan menggunakan e-Toll sampai masalah-masalah di atas terselesaikan," tegasnya.

(hds/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads