Berdasarkan data WealthInsight, pertumbuhan miliuner di Indonesia itu jauh lebih tinggi dari Tiongkok (7,9%) dan India (17,1%). Total saat ini ada 45.300 miliuner di Indonesia, naik dibandingkan posisi sebelumnya tahun lalu 37.000 miliuner.
Para miliuner ini dikenal juga dengan sebutan High-Net-Worth Individuals (HNWI), atau mereka yang punya kekayaan pribadi di atas Rp 11 miliar. Sebagai salah satu pemberi layanan wealth management di kalangan HNWI, DBS Indonesia melihat para miliuner Indonesia ini telah semakin dewasa dalam mengelola keuangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berdasarkan analisis kami, terdapat setidaknya tiga tren utama bagi HNWI di Indonesia," kata Steffano Ridwan, Head of Consumer Banking Group DBS Indonesia, dalam siaran pers, Senin (15/9/2014).
Pertama, dengan pasar HNWI yang semakin dewasa dalam hal finansial, mereka menuntut produk investasi yang lebih canggih. Penyedia jasa keuangan harus mampu melayani nasabah dengan produk-produk investasi yang sesuai dengan selera risiko (risk appetite) mereka.
Di Indonesia, lembaga perbankan hanya dapat menawarkan produk-produk investasi dalam negeri (inshore), sedangkan perusahaan penyedia layanan wealth management di luar negeri dapat membantu klien dalam diversifikasi risiko investasi mereka di luar negeri (offshore).
Kedua, ekspektasi yang tinggi atas peranan relationship manager. Dengan pertumbuhan ekonomi Asia yang begitu cepat, HNWI sangat haus akan informasi terbaru dari pasar.
"Relationship manager saat ini harus mampu membekali para HNWI dengan pemahaman yang kuat dan tidak terbatas pada pasar lokal, melainkan juga pada informasi pasar terbaru di ranah regional. Mereka harus berperan sebagai penasihat keuangan dan oleh karena itu, harus dilengkapi juga dengan wawasan yang mumpuni tentang pasar di Asia," jelasnya.
Sedangkan yang ketiga, revolusi digital adalah tren tak terelakkan. Ledakan dunia digital tidak hanya terjadi di kalangan pasar dengan usia lebih muda dan kelas menengah saja.
Berdasarkan World Wealth Report 2014, sebanyak 82% dari HNWI di Asia Pasifik (kecuali Jepang) menuntut kemampuan digital dari perusahaan wealth management. Perangkat digital dan mobile akan memungkinkan klien untuk bertransaksi dengan mudah.
"Mereka pun menuntut akses terhadap informasi real-time dalam memenuhi kebutuhannya terhadap asupan nasihat keuangan. Lembaga-lembaga keuangan atau perusahaan pengelola investasi harus mengadopsi tren digital agar tetap kompetitif di masa yang akan datang," ujarnya.
Menurutnya, pasar wealth management di Indonesia sangat besar. Untuk itu, pelaku industri dan regulator harus bekerja sama untuk memanfaatkan momentum ini.
"Oleh karena itu, kita perlu terus memaksimalkan keyakinan dari kalangan HNWI dalam mempercayakan pengelolaan instrumen investasinya pada industri keuangan di Indonesia. Berdasarkan tren di atas, maka tiga kunci utamanya meliputi diversifikasi produk; optimalisasi peranan SDM; dan pengembangan layanan berbasis digital," jelasnya.
(ang/dnl)











































