Arham S Torik, Direktur Utama Djakarta Lloyd, mengisahkan bahwa dulu perusahaan ini menanggung kerugian besar dan utang yang tidak sedikit.
"Dulu kami punya banyak kapal, dikasih uang untuk modal kerja. Pada 2011, Djakarta Lloyd punya utang Rp 1,3 triliun dan akumulasi kerugian Rp 1,5 triliun. Jadi kira-kira itu Rp 3 triliun," katanya di kantor Pusat PLN,Jakarta, Selasa (16/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akhirnya, PLN menyetujui kontrak percobaan selama setahun. PLN yang butuh angkutan batu bara untuk pembangkit listrik mempercayakannya kepada Djakarta Lloyd.
"Kontrak pertama dari PLN. Kalau ibaratnya orang hidup perlu darah, Djakarta Lloyd dihidupkan oleh PLN, lalu transformasi," katanya.
Dalam masa transformasinya itu, perusahaan menilai ulang dan memberhentikan hampir seluruh pekerjanya. Kemudian direkrut orang-orang baru yang lebih kompeten.
"Kira-kira 750 orang habis kita terminasi, yang masih kita gunakan ada sekitar 96 orang tersisa. Kita nilai ulang, sebagian kita angkat orang-orang terbaik," tutur Arham.
Kini, Djakarta Lloyd sudah mulai pulih. PLN pun masih mempercayakan Djakarta Lloyd untuk pengangkutan batu bara.
"Satu-satunya BUMN yang tugasnya mengangkut batu bara. Dalam rangka sinergi maka PLN, menugaskan Djakarta Lloyd mengangkut batu bara ke beberapa PLTU yang sudah dilakukan sejak 2012," kata Kepala Divisi Batu Bara PT PLN Persero Helmi Najamudin.
Djakarta Lloyd juga mendapat kontrak dari sejumlah perusahaan swasta. Adaro dan Berau Coal mengontrak Djakarta Lloyd selama 5 tahun untuk mengangkut batu bara.
(zul/hds)











































