Tol Trans Sumatera memiliki tingkat pengembalian investasi (IRR) yang rendah. Hal ini terkait dengan proyeksi lintasan harian kendaraan yang memakai tol yang masih rendah bila dibandingkan dengan tol-tol di Pulau Jawa. Secara hitungan kasar, tingkat pengembalian investasi bisnis tol di Pulau Jawa bisa mencapai 6-8 tahun, sedangkan di Pulau Sumatera bisa lebih lama.
"6 tahun sudah bagus, kalau di Sumatera bisa 20 tahunan. Kalau di Jawa 6 tahun," kata Direktur Utama PT Hutama Karya I Gusti Ngurah Putra kepada detikFinance ditemui di kantornya, Senin (15/9/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di dalam perpres berbunyi HK mulai dari pembiayaan, perencanaan, pelaksana, pengelola, dan pengoperasiaan. HK punya keistimewaan misalnya nggak mau (mengoperasikan), bisa dijual. Kalau laku," katanya.
Putra juga berharap Tol Trans Sumatera tak sampai mangkrak atau tak senasib dengan proyek infrastruktur lainnya, meski sebagian akan memakai dana APBN melalui Penyertaan Modal Negara (PMN).
"Mudah-mudahan nggak mangkrak. Jadi ini semua," katanya optimis.
Menurutnya presiden tentunya tak mau main-main mengeluarkan payung hukum untuk proyek yang bakal mangkrak. Meskipun ada beberapa kasus proyek infrastruktur yang belum ada kejelasan meski sudah ada Perpres seperti kasus pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS).
"Saya yakin bisa selesai masa presiden main-main dengan keluarkan Perpres (Peraturan Presiden). Kalau awal nggak yakin pasti nggak yakin. Semua yakin. Kalau nggak yakin terus nggak dikeluarkan," katanya.
Keempat ruas tersebut bakal menelan biaya investasi Rp 31,5 triliun. Khusus untuk ruas Pelambang-Indralaya untuk kebutuhan lahan dan konstruksi totalnya mencapai Rp 3,6 triliun dan untuk Medan-Binjai Rp 1,6 triliun.
(feb/hen)










































