Demikian dokumen masterplan National Capital Integrated Coastal Development (NCICD)/Pengembangan Terpadu Pesisir Ibukota Negara (PTPIN) yang dikutip, Kamis (18/9/2014).
Saat ini, kondisi tanggul di pesisir Jakarta Utara sudah hampir tenggelam permukaan laut. Di 2007 lalu, tembok pesisir yang tingginya sedikit di atas tinggi orang dewasa (sekitar 2 meter) itu, posisinya hanya tenggelam 50%. Pada Oktober tahun lalu, puncak tanggul laut itu sudah beberapa cm dari permukaan laut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam masterplan ini, muncul rencana pembangunan Giant Sea Wall sebagai tanggul laut 'raksasa' di Teluk Jakarta. Tanggul ini didesain sangat unik, yaitu sebuah bentuk burung 'Garuda Megah', lengkap dengan bentangan sayap, yang merupakan hamparan kumpulan pulau-pulau buatan hasil reklamasi sebagai daratan baru.
Untuk jangka pendek, masterplan NCICD merekomendasikan agar pertahanan laut dan sungai saat ini diperkuat, dan dipertinggi sedikitnya 1,5 meter. Agar bisa memberi kelonggaran waktu, sebelum tanggul laut raksasa dibangun di Teluk Jakarta.
"Penurunan muka tanah akan secara perlahan menurunkan permukaan tanggul. Upaya ini akan menyediakan perlindungan terhadap banjir hingga tahun 2022, yang memberi kesempatan untuk mengembangkan solusi-solusi yang tangguh," jelas dokumen NCICD.
Penguatan tanggul laut paling mendesak di dekat Pluit, Pantai Mutiara, dan di sepanjang Ancol. Pada ketiga tempat ini, tingkat ketinggian tanggul sudah sangat kritis.
"Pelaksanaan penguatan tanggul akan dimulai pada tahun 2014. Di banyak tempat, ruang yang tersedia untuk peningkatan tanggul ini sangat terbatas," jelas dokumen tersebut.
Saat ini, di seluruh wilayah pesisir Jakarta penurunan muka tanah ini sudah parah. Di bagian tengah dan bagian barat Teluk Jakarta, laju penurunan muka tanah rata-rata 7,5 cm per tahun. Ke arah timur wilayah pesisir, laju penurunan muka tanahnya sekitar 3 cm per tahun.
Namun, penguatan tanggul laut dan peningkatan kapasitas pompa drainase, tidak dapat lagi memberikan perlindungan yang cukup untuk jangka panjang. Apalagi, lahan di Jakarta sangat terbatas untuk menciptakan waduk tampung yang berkapasitas besar.
"Solusi lepas-pantai (tanggul laut raksasa di Teluk Jakarta) untuk perlindungan banjir tidak terelakkan lagi, untuk mencegah terjadinya banjir di wilayah pesisir kota akibat air laut dan sungai," kata dokumen NCICD.
(wij/hen)











































