Penurunan permukaan tanah di pesisir Jakarta Utara yang mencapai 7-17 cm per tahun, membuat Jakarta terancam tenggelam pada 2050. Jika ini terjadi, maka kerugian materi mencapai US$ 103 miliar (Rp 1.000 triliun), dan 4,5 juta warga Jakarta harus mengungsi dari wilayah pesisir.
Saat ini, ada beberapa opsi yang bisa menjadi pilihan, agar Jakarta tak tergenang 35 tahun lagi. Opsi pertama dengan membangun tembok sangat tinggi di pinggir pantai atau, yang kedua membangun tanggul laut di perairan Teluk Jakarta.
Berdasarkan dokumen masterplan National Capital Integrated Coastal Development (NCICD)/Pengembangan Terpadu Pesisir Ibukota Negara (PTPIN) yang dikutip, Kamis (18/9/2014), terdapat dua opsi, yaitu:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tanggul tinggi di sepanjang sungai, yang jauh di darat, dan di sepanjang laut hingga 7 meter dalam jangka panjang akan diperlukan untuk mencegah air mengalir ke dalam polder," jelas dokumen NCICD.
Namun, sistem ini berdampak pada penyeberangan sungai harus ditinggikan beberapa meter, yang membutuhkan ruang untuk jalan masuk yang panjang dan tinggi. Selain, ribuan hektar waduk retensi dan pompa berkapasitas besar akan dibutuhkan untuk membuat polder bebas banjir.
Selain itu, dampak lainnya harus ada upaya-upaya drastis, yaitu membangun tanggul-tanggul dan waduk, yang imbasnya harus memindahkan banyak penduduk.
"Lahan yang luas yang dibutuhkan untuk waduk retensi akan bertambah sejalan dengan waktu dalam 50 tahun mendatang, hanya sebuah tanggul laut yang lebarnya 50 meter yang akan memisahkan Jakarta Utara dari laut yang lebih tinggi 5 meter. Jika tanggul ini pecah, bencana besar akan terjadi," jelas dokumen itu.
Kedua, opsi membangun tanggul raksasa di lepas-pantai ini terdiri atas tanggul laut raksasa di Teluk Jakarta, yang menciptakan danau pemompaan yang sangat luas (waduk raksasa) yang terletak di lepas pantai. Dengan menggabungkan tanggul laut dengan reklamasi lahan, pertahanan laut yang tangguh dan tidak bisa bobol dapat dibuat.
"Danau penahan yang ada di belakang tanggul ini akan memiliki muka air yang lebih rendah yang akan mempermudah aliran alami sungai-sungai yang membelah Jakarta," jelas dokumen NCICD.
Opsi ini akan memberikan perlindungan yang kokoh hingga 2080, yang memberikan waktu untuk mengurangi penurunan muka tanah.
Di samping itu, pembangunan tanggul ini dapat digabungkan dengan pengembangan perkotaan. Tanggul dan reklamasi ini memungkinkan terbangunnya jalan lingkar kedua dan ketiga di Jakarta, namun opsi ini membutuhkan investasi besar
"Waduk raksasanya memberikan sumber air baku tambahan dan terbukanya kesempatan untuk perluasan pelabuhan," jelas NCICD.
Alternatif kedua ini biasa disebut program Giant Sea Wall sebagai tanggul laut 'raksasa' di Teluk Jakarta. Tanggul ini didesain sangat unik yaitu sebuah bentuk burung 'Garuda Megah' lengkap dengan bentangan sayap yang merupakan hamparan kumpulan pulau-pulau buatan hasil reklamasi sebagai daratan baru.
(wij/hen)











































