Kepala Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor (IPB) Yon Vitner mengungkapkan, karena lamanya praktik ini dilakukan, beberapa cukong ikan Thailand pandai berbahasa Indonesia.
"Begini, dulu kapal saya (kapal pengawasan laut) ditabrak oleh kapal nelayan Thailand. Saya konsultasi, lalu saya tanya Bapak berapa lama di sini? Orang Thailand itu sudah bisa berbahasa Indonesia dan menjawab sudah 12 tahun. Jadi praktik ini sudah terjadi lama," kata Yon saat ditemui di kantor Kadin Kuningan, Jakarta, Senin (22/09/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya pikir orang yang saya tangkap itu orang Jawa. Lalu saya bilang tugas Bapak apa? Dia jawab mengatur lalu lintas kapal kami. Kami punya kewajiban hanya mendaratkan di pelabuhan kami berangkat. Oh benar dia, jadi ada celah di kita," imbuhnya.
Kelemahan lainnya menurut Yon adalah, syarat untuk mendapatkan izin berlayar dan menangkap ikan di lautan Indonesia cukup mudah. Sehingga tidak jarang, banyak kapal asing yang masuk dan menangkap ikan di laut Indonesia.
"Orang itu punya 2 kapal besar yang mendapatkan izin menangkap di kita. Syaratnya juga mudah mereka penuhi seperti penggunaan ABK (Anak Buah Kapal) kita 40%. Jadi dia penuhi dan nelayan kita bekerja di sana," cetusnya.
(wij/dnl)











































