Salah satunya dengan meningkatkan sarana transportasi melalui proyek Mamuju Arterial Road untuk mendukung akses ke Pelabuhan Internasional Belang-Belang, Sulawesi Barat (Sulbar). Hal ini untuk mengantisipasi dini peningkatan volume lalu lintas di masa yang akan datang akibat pertumbuhan ekonomi di Sulbar.
"Infrastruktur untuk memperlancar barang dan orang dari pelabuhan ke pusat kota juga ke airport," ujar JK kepada wartawan usai meninjau lokasi pembangunan jalur Arteri Mamuju, di pos Karema, Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar), Senin (22/9/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat meninjau, JK mengamati detail perencanaan pembangunan jalan yang tergambar dalam poster Site plan Mamuju Arterial Road Segmen II.
Didampingi Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh dan pihak pengembang, JK berulang kali mengatakan infrastruktur itu memiliki peranan penting dalam pengembangan ekonomi suatu daerah.
"Oh sudah ditandangani Pak Djoko Kirmanto (Menteri PU) ya. Bagus ini (site plan-nya)," katanya.
Setelah melihat-lihat dan mendengar penjelasan dari Adnan, JK pun mengalihkan pandangannya ke pantai lepas yang ombaknya cukup tenang. JK memeriksa kondisi turap yang terpasang dari bebatuan untuk menahan ombak.
"Karena di sini tidak ada pasir pantai, jadi dipasangi batu-batuan. Ini tidak ada pasir karena palungnya dalam," terang Adnan kepada JK sambil menunjuk kontur pantainya.
Sementara itu, Manajer Proyek dari Bosowa, Rusdi Rasyid mengungkapkan proyek yang sudah berjalan selama 3 bulan ini ditargetkan selesai Desember 2014. Target itu untuk menghubungkan akses dari Kantor Gubernur menuju gedung DPRD di kawasan Maleo yang merupakan pusat kota.
"Target kira-kira akhir Desember selesai. Ini sudah 45% dari 3 bulan berjalan. Sudah bisa dilalui Desember dari sini sampai kantor DPRD di Maleo. Nyisir pinggir laut," ucap Rusdi.
"(Proyek rencananya) Dari kantor gubernur sampai bandara, tapi sementara itu dulu. Instruksi dari Pak JK langsung 2016 bisa rampung," tutupnya.
Selain infrastruktur jalan, JK bersama Adnan juga berniat memanfaatkan sungai untuk sumber pembangkit tenaga listrik (PLTA).
"Tidak ada pembangunan apapun tanpa listrik. Pembangunan PLTA terbesar 400 mega watt. Tidak ada bendungan, tapi mengalihkan sungai," tutur suami Mufida ini.
(aws/hen)











































