Provinsi Sulawesi Barat merayakan HUT ke-10 pada 22 September. Selama satu dasawarsa apa saja yang telah dicapai oleh provinsi hasil pemekaran Sulawesi Selatan ini?
Gubernur Provinsi Sulbar, Anwar Adnan Saleh, membagi kisahnya selama memimpin daerah ini saat berbincang di kediamannya, Jl Poros Mangas, Mamuju, Sulawesi Barat. Dia menceritakan, dulu Sulbar pernah menjadi tempat pembuangan bagi para pegawai bandel.
"Tidak terlalu sulit mencari apa yang berubah selama 10 tahun. Ini kan daerah pembuangan, semua yang tidak baik ada di sini. Dulu Selayar dan Mamuju jadi tempat menghukum pegawai di Sulsel. (Sempat jadi pertanyaan) kalau dimekarkan makin bagus atau makin susah, ternyata solusi untuk berubah jawabannya pemekaran," papar Adnan, Selasa (23/9/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah kita kembangkan 2010, pertumbuhan ekonomi tertinggi dari seluruh provinsi di Indonesia. Permasalahan dasar itu infrastruktur, saya akui. Tapi Pak JK (Jusuf Kalla) sebagai wapres di 2009 terus mendukung itu dulu," sebut pria yang terpilih sebagai gubernur selama 2 periode berturut-turut itu.
"Semua kabupaten (5 kabupaten di pantai) memiliki pelabuhan standar, tadinya nggak ada. Jalan nasional termasuk ke bandara juga sudah ada," lanjutnya.
Dia pun tak segan-segan membagi rancangan pembangunan Sulbar yang ingin dicapai ke depannya. Pertama, Adnan ingin membenahi Bandara Tampapadang. Mantan Ketua DPD Golkar tersebut berniat akan memindahkan lokasi bandara ke tempat yang lebih strategis, yakni menghadap ke laut. Dengan begitu diharapkan keindahan potensi alam dapat memanjakan mata siapa saja yang datang ke Sulbar.
"Bandara harus mengalami pembenahan, terminal kita pindahkan menghadap ke laut sehingga tidak di perkampungan lagi. Bandara lama kita akan sesuai aturan yang ada, kita kerja sama dengan TNI AU digunakan untuk aset-aset daerah yang membutuhkannya," jelas Adnan.
Untuk jangka menengah-panjang juga, Adnan pun sudah menyiapkan rencana pembangunan jalur Mamuju Arterial Road yang mendukung akses ke bandara dan pelabuhan.
"Saya ingin bangun Arterial Road untuk men-support bandara dan pelabuhan. Paling tidak 3 tahun kita butuhkan waktu," tuturnya.
Adnan mengatakan daerahnya sedang dipersiapkan untuk menuju ekonomi industri. Dia menilai agroindustri khususnya perkebunan kakao dan sawit dapat menjadi penggerak perekonomian. Selain itu, minyak pun potensial untuk menopang pembangunan ke depan.
"Sektor pertanian mendominasi, kakao. Hanya dalam waktu 1,5 tahun harga kakao melambung dan ekonomi masyarakat naik. Pabrik sawit juga terbesar di sini, sekitar 180 ribu hektar. Terbesar di Indonesia Timur," terangnya.
"Sejak 2012 daerah ini kita targetkan masuk ke industri seperti agroindustri dan sebagainya. Mamuju ini penghasil rotan terbesar di Sulawesi, pasar kita selama ini ke Cirebon. Kenapa nggak kita olah sendiri supaya menambah lapangan kerja bagi masyarakat lokal," papar Adnan.
"(Kita juga akan membangun) pabrik minyak goreng terbesar di Indonesia Timur dengan 2.000 ton per hari. 80% bahan baku dari CPO Mamuju dan Mamuju Utara. Nggak lama lagi pelabuhan di Majene juga akan membantu," sebutnya.
(aws/hds)










































