Banyak kawasan industri, aktivitas kerja di Indonesia berpusat di wilayah DKI Jakarta. Namun sayang, masih banyak tenaga kerja di Jakarta yang belum menjadi peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) ketenagakerjaan.
Hal itu diungkapkan oleh Kepala Kanwil BPJS Ketenagakerjaan DKI Jakarta Hardi Yuliwan di sela-sela acara Dialog Jaminan Sosial Sosial Security Journalist Club di Kantor Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Rabu (24/9/2014).
Tercatat, dari total pekerja di DKI Jakarta yang mencapai 5,2 juta orang, ada 30% atau 1,6 juta pekerja yang belum terdaftar di BPJS ketenagakerjaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, masih banyak para pekerja yang belum tertarik untuk menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan. Padahal, jika tak menjadi peserta BPJS bisa diberikan sanksi.
"Sudah 37 tahun faktanya dari Jamsostek sampai ke BPJS Ketenagakerjaan, faktanya masih ada yang belum ikut," katanya.
Dikatakan Hardi, ada beberapa alasan mengapa masih banyak pekerja yang belum menjadi peserta BPJS. Faktor penghasilan dan pendidikan rendah dari para pekerja pun menjadi salah satu alasan BPJS tak menarik bagi mereka.
"Ada yang menganggap asuransi haram, mendahului tuhan, ada yang anggap masalah nasib rezeki itu tuhan yang menentukan. Ini kadang budaya yang menyesatkan. Lalu sosialisasi kurang. Ini kita sadari. Tapi mereka juga belum banyak paham," katanya.
(zul/hen)











































