ADB: Kinerja Pemerintahan Jokowi Bakal Disorot Pelaku Pasar

ADB: Kinerja Pemerintahan Jokowi Bakal Disorot Pelaku Pasar

- detikFinance
Kamis, 25 Sep 2014 11:44 WIB
ADB: Kinerja Pemerintahan Jokowi Bakal Disorot Pelaku Pasar
Joko Widodo, presiden terpilih 2014-2019
Jakarta - Situasi perekonomian tahun depan akan sangat menantang bagi negara-negara berkembang. Ini karena kemungkinan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserves/The Fed menaikkan suku bunga, sehingga arus modal akan cenderung mengarah ke Negeri Paman Sam.

Indonesia, India, dan Tiongkok merupakan sebagian negara berkembang yang dinilai akan terkena dampak cukup besar. Bagaimana propek ekonomi negara-negara ini tahun depan?

Edimon Ginting, Deputy Country Director Bank Pembangunan Asia (ADB) untuk Indonesia, menjelaskan untuk Tiongkok, ekonominya tetap akan berada pada kisaran 7,5%. Dengan beberapa tantangan, dimungkinkan terjadinya koreksi sampai di kisaran 7,3%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tiongkok masih dalam perbaikan kualitas pertumbuhan," ujarnya dalam paparan ekonomi di Hotel Intercontinental, Jakarta, Kamis (25/9/2014).

Permasalahan di Tiongkok, lanjut Edimon, karena belum membaiknya ekspor akibat pelemahan ekonomi. Sehingga arah kebijakan pemerintah Tiongkok lebih kepada menggenjot potensi domestik yaitu penguatan konsumsi dalam negeri.

"Arahnya masih pada domestic stimulus," sebutnya.

India, menurut Edimon, diperkirakan berada dalam tren pemulihan. Pemerintahan baru di bawah pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi memberi kepercayaan diri kepada investor. Terlihat dari pasar saham India yang mampu tumbuh 28%.

Sementara masalah yang harus dihadapi India adalah inflasi yang masih tinggi. "Pertumbuhan ekonomi India diperkirakan 6,3% tahun depan. Tetap naik dari tahun ini yang 5,5%," jelas Edimon.

Bagaimana dengan Indonesia?

Edimon menyampaikan posisi Indonesia tidak akan jauh berbeda dengan India. Sentimen positif muncul dari kehadiran pemerintahan baru pimpinan presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi).

"Paralel dengan India, Indonesia juga memiliki pemerintahan baru yang sangat disoroti oleh pelaku pasar," terangnya.

Dari sisi inflasi, menurutnya tidak akan terlalu bermasalah untuk tahun depan. Fokus pemerintah lebih kepada perbaikan defisit transaksi berjalan yang seharusnya berada pada kisaran 2,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

"Ekonomi Indonesia bisa tumbuh lebih baik mencapai 5,8%," imbuhnya.

Secara umum, demikian Edimon, negara-negara berkembang sudah cukup siap menghadapi gejolak ekonomi dunia. Masalah yang sempat terjadi pada 2013 diperkirakan tidak akan terulang kembali.

"Kejadian 2013 hanya over reaction. Itu tidak akan terjadi lagi tahun depan," tuturnya.

(mkl/hds)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads