Anggaran Rapat dan Perjalanan Dinas Pemerintah Triliunan Menuai Kritik dan Komentar

Anggaran Rapat dan Perjalanan Dinas Pemerintah Triliunan Menuai Kritik dan Komentar

- detikFinance
Jumat, 26 Sep 2014 08:18 WIB
Anggaran Rapat dan Perjalanan Dinas Pemerintah Triliunan Menuai Kritik dan Komentar
Jakarta - Belanja negara dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih belum sepenuhnya produktif. Selain subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang tidak tepat sasaran dan menghabiskan dana ratusan triliun rupiah, belanja operasional pemerintah juga masih cukup besar.

Misalnya anggaran untuk rapat dan perjalanan dinas. Presiden dan wakil presiden terpilih Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) menegaskan akan melakukan efisiensi terhadap dua pos belanja ini.

Berikut detikFinance merangkum sejumlah komentar mengenai belanja perjalanan dinas dan rapat pemerintah yang tidak efisien, Jumat (26/9/2014):

Jokowi sebut anggaran perjalanan dinas terlalu besar

Pekan lalu, Jokowi sendiri yang mengkritik tingginya biaya perjalanan dinas. Di depan pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Jokowi menegaskan akan ada efisiensi di pemerintahannya nanti.

"Efisiensi dalam anggaran yang ada. Contoh, perjalanan dinas hampir Rp 30 triliun untuk apa? Biaya kantor saya sudah hafal, karena saya dari wali kota, gubernur. Saya dan Pak JK (Jusuf Kalla) ini pengusaha. Itu rupiah dihitung dan harus dipertanggungjawabkan," paparnya.

Padahal, Jokowi menyebutkan bahwa ruang APBN semakin sempit karena banyaknya belanja-belanja yang mengikat. "Misalnya untuk bayar utang, pendidikan 20%, itu mengikat. Ruangnya sempit," ujar dia.

Anggaran perjalanan dinas 2013 naik 34% dibanding 2012

Dalam pos belanja barang, ada sejumlah pengeluaran yang dianggarkan pemerintah. Belanja-belanja tersebut adalah belanja barang, belanja jasa, belanja pemeliharaan, belanja perjalanan, belanja barang Badan Layanan Umum (BLU), serta belanja barang untuk diserahkan kepada masyarakat/pemda.

Menurut data Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) 2013, belanja barang secara keseluruhan tahun lalu adalah Rp 167,91 triliun. Naik 20% dibandingkan tahun sebelumnya yaitu Rp 140,02 triliun.

Sementara anggaran perjalanan dinas 2013 adalah Rp 26,54 triliun. Naik 34,8% dibandingkan tahun sebelumnya yaitu Rp 19,68 triliun.

Fitra: Anggaran perjalan dinas 2014 Rp 32 triliun

Menurut catatan Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (Fitra), anggaran perjalanan dinas tahun ini mencapai Rp 32,1 triliun. Naik dibandingkan 2013 yang sekitar Rp 26 triliun.

"Anggaran perjalanan dinas tahun ini mencapai Rp 32,1 triliun. Jadi terlalu besar yang dikeluarkan hanya untuk membiayai aparat pemerintahan yang tidak tahu kegiatannya apa di daerah itu," tegas Koordinator Advokasi dan Investigasi Fitra Ucok Sky Khadafi.

Anggaran perjalanan dinas harusnya tak lebih dari Rp 10 triliun

Tahun ini, Fitra mencatat anggaran perjalanan dinas pemerintahan mencapai Rp 32,1 triliun. Anggaran untuk perjalanan dinas memang meningkat setiap tahunnya.

Koordinator Advokasi dan Investigasi Fitra Ucok Sky Khadafi menilai, anggaran perjalanan dinas sebenarnya tidak perlu sebesar itu. Dia menilai masih bisa dipangkas tanpa mengurangi kinerja.

"Harusnya itu cuma di bawah 10 triliun," ujarnya.

Ucok menilai dalam perjalanan dinas jajaran pemerintah pusat ke daerah selalu ada pelayanan dan fasilitas yang disediakan lewat pagu APBD. Sehingga anggaran yang dikeluarkan jadi berlipat ganda.

"Jadi kalau ke daerah, itu dibiayai oleh APBD juga pegawai yang dari pusat. Makanya kadang mereka dapat double budget," paparnya.

Dengan sistem otonomi daerah sekarang, lanjut Ucok, pemerintah pusat bisa mengalihkan kewenangan ke pemerintah daerah. Pemerintah pusat hanya memantau hasil kinerja dari pemda.

Selain itu, tambah Ucok, pemerintah juga bisa memanfaatkan tekonologi informasi untuk mengkoordinasikan berbagai kebijakan dan program.

"Mereka cuma mau lihat sana sini, terus nakut-nakutin daerah. Kalau cuma mantau tinggal, video conference saja. Kan beres," paparnya.

Anggaran rapat pemerintah juga besar

Beberapa waktu lalu, Hasto Kristiyanto, Deputi Kepala Staf Tim Transisi Jokowi-JK, menyebutkan anggaran rapat pemerintah mencapai Rp 18 triliun. Porsi anggaran tersebut paling besar untuk dalam kota dengan nilai Rp 11,6 triliun. Sisanya adalah rapat di luar kota.

"Seluruh anggaran rapat di pemerintah di republik ini kami hitung mencapai Rp 18 triliun," ujarnya.

Anggaran rapat pemerintah bengkak karena diadakan di hotel berbintang

Anggota Komisi XI DPR Dolfie OF Palit menyebutkan, besarnya anggaran rapat disebabkan pelaksanaannya di hotel berbintang. Lengkap dengan fasilitas-fasilitas mewah yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

"Itu kan rapatnya di hotel-hotel. Makanya anggaran besar," tegasnya kepada detikFinance, Kamis (25/9/2014).

Padahal untuk sebuah rapat di dalam kota, lanjut Dolfie, harusnya bisa mengoptimalkan ruangan kantor. Menurutnya kantor kementerian sudah menyediakan fasilitas yang tidak kalah mewah.

"Rapatnya kan harusnya bisa di kantor. Kenapa harus ke hotel?" ujarnya.

Anggaran renovasi gedung pemerintahan juga cukup besar

Dikutip dari data BPK, pada 2012 anggaran renovasi gedung pemerintahan tercatat Rp 19,5 triliun. Setahun kemudian naik menjadi Rp 22,9 triliun.

Dirjen Anggaran Kementerian Keuangan Askolani menilai anggaran tersebut memang selayaknya dipotong. Dia menilai jumlahnya sangat besar dan tidak terlalu dibutuhkan dalam waktu dekat.

"Kalau untuk renovasi gedung itu memang mestinya dihemat," ungkapnya.

Dalam 2 tahun terakhir, kata Askolani, pemerintah sudah melakukan penghematan anggaran. Banyak rencana renovasi gedung yang akhirnya dibatalkan.

Askolani tidak menuturkan secara rinci anggaran yang dihemat dari pos renovasi gedung. Namun dia memberi gambaran tahun ini penghematan dari pos tersebut berkontribusi besar atas target penghematan Rp 43 triliun. Bersama dengan anggaran rapat, seminar, perjalanan dinas, dan lainnya.

"Tahun ini saja kan sudah berapa kali penghematan anggaran. Ini juga masih terus dilakukan," katanya.
Halaman 2 dari 8
(hds/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads