Direktur Jenderal Prasana dan Sarana (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan) Gatot Irianto mengatakan, total irigasi pertanian yang ada saat ini mencakup area 8,8 juta hektar, sekitar 30% dalam kondisi rusak.
"Rusak di sini ada 3 ketegori, ringan, sedang, dan berat, mulai dari kurang debit air sampai tidak bisa difungsikan lagi," ujar Gatot kepada detikFinance, Jakarta, Jumat (26/9/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini karena alih fungsi lahan yang terjadi gila-gilaan, mulai dari pembangunan perumahan, jalan tol, sehingga merusak fungsi irigasi, bahkan ketika hujan sawah petani terkena banjir produksi turun, petani rugi. Ini saya sekarang sedang di Demak, beberapa tahun lalu di sini banyak sawah sekarang kanan-kiri perumahan semua," ungkapnya.
Gatot menambahkan, banyaknya irigasi yang rusak saat ini karena kurangnya perhatian dari pemerintah Daerah, yang kurang bijak dalam mengeluarkan izin.
"Kurangnya perhatian Pemda dalam pemberian izin di daerah sangat besar sekali, Pemda kasih izin bangun pabrik, bangun perumahan dan lainnya, sehingga laham persawahan berkurang, irigasinya rusak, produksi petani turun, dampaknya keman-mana," tutupnya.
(rrd/hen)











































