Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO) telah memangkas proyeksi pertumbuhan perdagangan dunia dari 4,7% menjadi 3,1%. Selain itu, ada ancaman di pasar ekspor Indonesia khususnya kasus virus ebola di Afrika, menjadi risiko bagi global maupun dunia.
"Kami telah mencermati kondisi ini meskipun kita tetap waspada. Tetapi Ditjen PEN (Pengembangan Ekspor Nasional) tidak kehilangan optimisme untuk target ekspor Indonesia," kata Wamendag Bayu Krisnamurthi saat ditemui di kantor Kementerian Perdagangan, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Jumat (26/09/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Afrika misalnya hanya 3-4% dari total ekspor Indonesia," imbuhnya.
Pertumbuhan perdagangan Indonesia justru jauh lebih tinggi di Asia dengan komposisi hingga 71%. Negara dengan pasar terbesar ekspor produk Indonesia ke Asia adalah Tiongkok dan India. Bahkan pertumbuhan pangsa pasar ekspor Indonesia ke Tiongkok, Jepang dan Korsel rata-rata tumbuh 2,5% per tahun.
"ASEAN ada yang lebih tinggi Filipina 5%, Singapura 3,5%. Jadi masih punya kesempatan," katanya.
Sedangkan faktor lain melemahnya pertumbuhan perdagangan dunia yaitu konflik yang terjadi antara Uni Eropa, Amerika Serikat (AS) dan Rusia, terkait Ukraina. Di samping masih bergejolaknya kondisi politik di Timur Tengah juga ikut menambah risiko perdagangan dunia. Oleh karena itu pemerintah mulai menggenjot dan menyasar pasar ekspor lain terutama di kawasan Amerika Utara dan negara Eropa lainnya.
"Amerika Utara dan beberapa negara di Eropa seperti Inggris pertumbuhan impornya (ekspor barang Indonesia ke Inggris) 5,7%, Jerman 6,5%. Kemudian beberapa negara prospektif seperti Meksiko, Taiwan, dan Iran masih memberikan pertumbuhan yang positif bagi Indonesia. Kita harus bekerja lebih keras untuk mempromosikan ke wilayah tersebut," tutur Bayu.
(wij/hen)
