Berdasarkan pantauan detikFinance di Cikini Gold Center, Jakarta, Senin (29/9/2014), beberapa toko perhiasan mencatatkan penurunan harga emas logam mulia.
Misalkan di Toko Dewi Jewelry. Harga logam mulia saat ini mengalami penurunan menjadi Rp 2,5 juta untuk pecahan 5 gram, lebih rendah dari harga bulan lalu yang mencapai Rp 2,7 juta dengan pecahan yang sama. Menurut Pelayan Toko tersebut, tren penurunan harga emas ini disebabkan tingginya dolar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Toko Kenanga, harga logam mulia juga turun dari Rp 500.000 per gram di bulan Juli 2014 untuk pecahan 100 gram menjadi Rp 477.000 per gram untuk saat ini. Pemilik Toko Kenangan bernama Ivanna mengatakan, turunnya harga emas disebabkan dolar naik.
"Biasanya berbanding terbalik, kalau dolar naik, emas turun," ujarnya.
Hal yang sama disampaikan oleh pemilik Toko Perhiasan d'Makmur bernama Heri menyebutkan, harga logam mulia milik Antam memang sedang turun imbas dari menguatnya dolar.
"Bulan lalu Rp 490.000 per gram untuk pecahan 100 gram, sekarang Rp 477.000 per gram. Harga emas itu salah satunya dipengaruhi kurs dolar, kalau dia lagi kuat, emasnya yang turun," kata Heri.
Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mencoba menjelaskan kaitannya antara tingginya dolar dengan turunnya emas.
Menurutnya, pergerakan harga emas dunia yang juga berpengaruh terhadap harga emas di dalam negeri bisa dipengaruhi oleh naiknya suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Fed. Dengan dinaikkannya suku bunga The Fed, ekonomi AS diperkirakan akan membaik. Perbaikan ekonomi AS ini berbanding terbalik dengan pergerakan harga emas.
βKalau ekonomi AS membaik, emas melemah karena emas dianggap sebagai safe haven. Selama tahun 2008-2012 perekonomian AS memburuk, harga emas jadi tinggi. Tapi saat ini ekonomi AS terus membaik. Ini justru menjadi sentimen negatif buat emas,β jelas dia.
David memaparkan, pada saat AS melakukan cetak uang besar-besaran melalui Quantitative Easing (QE), uang yang beredar cukup banyak di pasar, ini menyebabkan ekspektasi inflasi naik.
βBiasanya kalau inflasi naik atau lagi tinggi, orang mengamankannya ke emas sebagai alat hedging karena emas dianggap sebagai alat hedging inflasi. Inflasi naik orang cari emas. Kan kalau inflasi naik perlu ada instrumen bagi investor untuk mengamankkan investasinya, nah emas ini menjadi pengamannya karena tidak tergerus inflasi, harga emas kan terus naik,β papar dia.
David menambahkan, saat QE berakhir di AS, orang mulai meninggalkan emas dan memilih instrumen obligasi dan deposito yang dinilai punya yield yang lebih bagus karena ada isu kenaikan suku bunga The Fed. Dengan The Fed dinaikkan, otomatis suku bunga obligasi dan deposito juga akan naik sehingga masyarakat lebih memilih menyimpan dananya.
"Mereka lepas emas, cari instrumen yang yield nya tinggi," pungkas David.
(drk/hen)











































