Transit apartemen tahap awal dibangun untuk menampung relokasi warga yang tinggal di daerah kumuh di sekitar Sungai Cikapundung. Total warga yang rumahnya direnovasi mencapai 50 kepala keluarga.
"Kemudian membangun tanpa menggusur. Ini sudah mulai di Sadang Serang. Kekumuhan di Sungai Cikapundung dalam waktu 1 bulan pindah ke rumah susun di Sadang Serang sebagai transit apartemen," kata Ridwan pada acara Hari Habitat Dunia 2014 di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (2/10/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kita perbanyak yang namanya apartemen transit, kalau ada itu maka kekumuhan mudah diberantas," jelasnya.
Persoalan selama ini, masyarakat digusur dari tempat tinggal mereka. Usai digusur, mereka hanya diberi uang ganti rugi tanpa dipikirkan tentang hunian pasca penggusuran, akibatnya masyarakat sering menolak.
"Pindah bedol desa ternyata mereka mau. Yang selama ini bikin resistensi itu, mereka ganti rugi terus mau pindah dimana? Mereka tercerai berai dengan tetangga," ujarnya.
Untuk pembiayaan transit apartemen, Pemkot dibantu oleh pihak swasta namun pembangunan berada di bawah koordinasi Pemkot Bandung.
"Kombinasi pemkot dan swasta tapi kita yang atur," katanya.
Selain membangun transit apartemen dan menata pemukiman kumuh, Pemkot Bandung menginisiasi pembangunan apartemen rakyat. Apartemen rakyat yang dibangun pada lahan milik Pemkot ini, nantinya diperuntukan untuk masyarakat miskin dan menengah. Pembangunan hunian vertikal ke depan adalah solusi keterbatasan lahan di Kota Bandung.
"Kita bangun yang namanya apartemen rakyat jadi harganya lebih rumah daripada harga di pasaran karena kita lakukan subsidi silang. Kelompok menengah tinggal di atas dan kelompok miskin tinggal di bawah," katanya.
(feb/hen)











































