Kepala Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (BPSPAM) Tamin M Zakaria Amin optimistis hal itu bisa diterapkan di kota-kota di Indonesia.
"Saya yakin kota-kota di Indonesia bisa memakai air dan langsung diminum," katanya dalam paparan di Kantor Kementerian PU, Jakarta, Kamis (9/10/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena kalau air yang di pipa itu berhenti mengalir, nanti air tanah yang masuk," kata dia.
Salain itu, perlu ada perawatan dan pemeliharaan ekstra pada jaringan pipa penyaluran untuk memastikan kebersihan air tetap terjaga dan tidak bocor. Ditambahkannya, diperlukan pula penerapan teknologi yang tepat mulai dari memperoleh sumber air hingga pengelolaannya.
"Seperti di Jakarta, pemerintahnya sudah berkomitmen untuk mengurangi penggunaan air tanah. Kita bantu juga yang kasus seperti ini agar bisa dicarikan solusi lain untuk memperoleh sumber air," sebut Zakaria.
Dia mengatakan, untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Indonesia membutuhkan dana hingga Rp 274,8 triliun yang bisa diperoleh dari berbagai skema pembiayaan.
"Dari APBN Rp 90,7 triliun, Dana Alokasi Khusus Rp 24,7 triliun, APBD/PIP Rp 98,9 triliun, PDAM sendiri Rp 37 triliun, kerja sama swasta Rp 27,5 triliun," rincinya.
(hds/hds)










































