Wakil Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro menuturkan, risiko global terberat akan datang dari negara-negara mitra dagang Indonesia. Ketidakpastian ekonomi global bakal membuat pertumbuhan ekonomi negara mitra Indonesia terkoreksi turun.
Kondisi ini menyebabkan penurunan permintaan barang, dan menganggu kinerja ekspor Indonesia. Tiongkok, Amerika Serikat (AS), Thailand, Jepang, dan Singapura yang bisa terganggu kondisi ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian adalah, peralihan kebijakan moneter secara global. Negara-negara berkembang, menurut Bambang, tidak akan lagi hidup dengan dana segar negara maju. Karena kebijakan penarikan stimulus atau tappering off oleh Bank Sentral AS, yaitu The Fed pada 2013 lalu, dan akan dilanjutkan dengan kenaikan suku bunga di AS.
Kemudian terkait penurunan harga komoditas global. Batubara dan Crude Palm Oil (CPO) yang menjadi ekspor andalan Indonesia, bakal mengalami penurunan harga.
"Kita tidak akan lagi mengalami boom comodity seperti tahun 2008. Karena harga itu mengalami penurunan," sebutnya.
Sedangkan dari dalam negeri, pemerintah juga harus mengatasi banyak hal. Di antaranya adalah lemahnya tingkat produktivitas dan keterbatasan kapasitas produksi. Di 2013 ekonomi Indonesia tumbuh 5,8%, namun Intremental Capital Output Ratio (ICOR) hanya 4,7%.
Pemerintahan baru juga harus berhadapan dengan rentang infrastruktur yang cukup lebar. Ekonomi yang belum merata membuat infrastruktur hanya terbangun pada kota-kota besar.
"Masalah selanjutnya adalah gap kemampuan. Kemudian kurangnya inovasi, teknologi, dan masih lemahnya pasar keuangan," tukasnya.
(mkl/dnl)










































