Ini Tantangan Ekonomi di Tahun Pertama Jokowi

Ini Tantangan Ekonomi di Tahun Pertama Jokowi

- detikFinance
Jumat, 10 Okt 2014 10:06 WIB
Ini Tantangan Ekonomi di Tahun Pertama Jokowi
Nusa Dua - Beberapa risiko perekonomian bakal menghadang pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) di tahun pertama memerintah. Risiko ekonomi itu muncul dari luar dan dalam negeri.

Wakil Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro menuturkan, risiko global terberat akan datang dari negara-negara mitra dagang Indonesia. Ketidakpastian ekonomi global bakal membuat pertumbuhan ekonomi negara mitra Indonesia terkoreksi turun.

Kondisi ini menyebabkan penurunan permintaan barang, dan menganggu kinerja ekspor Indonesia. Tiongkok, Amerika Serikat (AS), Thailand, Jepang, dan Singapura yang bisa terganggu kondisi ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada ketidakpastian global dan ekonomi negara yang menjadi mitra dagang Indonesia," kata Bambang dalam seminar perekonomian di Hotel Niko, Nusa Dua , Bali, Jumat (10/10/2014)

Kemudian adalah, peralihan kebijakan moneter secara global. Negara-negara berkembang, menurut Bambang, tidak akan lagi hidup dengan dana segar negara maju. Karena kebijakan penarikan stimulus atau tappering off oleh Bank Sentral AS, yaitu The Fed pada 2013 lalu, dan akan dilanjutkan dengan kenaikan suku bunga di AS.

Kemudian terkait penurunan harga komoditas global. Batubara dan Crude Palm Oil (CPO) yang menjadi ekspor andalan Indonesia, bakal mengalami penurunan harga.

"Kita tidak akan lagi mengalami boom comodity seperti tahun 2008. Karena harga itu mengalami penurunan," sebutnya.

Sedangkan dari dalam negeri, pemerintah juga harus mengatasi banyak hal. Di antaranya adalah lemahnya tingkat produktivitas dan keterbatasan kapasitas produksi. Di 2013 ekonomi Indonesia tumbuh 5,8%, namun Intremental Capital Output Ratio (ICOR) hanya 4,7%.

Pemerintahan baru juga harus berhadapan dengan rentang infrastruktur yang cukup lebar. Ekonomi yang belum merata membuat infrastruktur hanya terbangun pada kota-kota besar.

"Masalah selanjutnya adalah gap kemampuan. Kemudian kurangnya inovasi, teknologi, dan masih lemahnya pasar keuangan," tukasnya.

(mkl/dnl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads