Cerita Malaysia Pusing Utang Makin Banyak dan Pangkas Subsidi

Cerita Malaysia Pusing Utang Makin Banyak dan Pangkas Subsidi

- detikFinance
Senin, 13 Okt 2014 07:15 WIB
Cerita Malaysia Pusing Utang Makin Banyak dan Pangkas Subsidi
Foto: Reuters
Kuala Lumpur - Pemerintah Malaysia ingin terus melanjutkan kebijakan tak populernya, yaitu memangkas subsidi-subsidi. Ini tujuannya untuk menekan utang di negara tersebut.

Rencana melanjutkan pemangkasan subsidi ini disampaikan oleh Perdana Menteri Najib Razak. Lewat pemangkasan subsidi, pemerintah Malaysia menargetkan pertumbuhan ekonomi 5-6%, pada tahun ini dan tahun depan.

Setelah bertahun-tahun pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk program-program populis, karena adanya pemilu tahun lalu, jumlah utang terus meningkat dan harus ditahan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Telah banyak subsidi yang telah dikurangi oleh pemerintah Malaysia, termasuk subsidi BBM dan gula. Mulai April tahun depan, pemerintah Malaysia juga akan menerapkan pajak barang dan jasa untuk meningkatkan penerimaan negara.

Kementerian Keuangan Malaysia mengatakan, tahun depan subsidi yang aan dikurangi mencapai 37,7 miliar (US$ 11,6 miliar) atau sekitar Rp 139 triliun, turun 7,1% dari tahun ini.

"Mengurangi defisit fiskal adalah tanggung jawab moral dari generasi kami," ujar Najib yang juga menjabat Menteri Keuangan kepada parlemen Malaysia, seperti dilansir dari AFP, Senin (13/10/2014).

"Kami tidak mau di masa depan rakyat Malaysia terjebak dalam lilitan utang pemerintah," kata Najib.

Malaysia merupakan salah satu negara di Asia yang memiliki rasio utang terhadap PDB terbesar, yakni 52,8% di Juni 2014. Sementara Indonesia, rasionya masih sekitar 24%.

Tahun lalu, lembaga pemeringkat internasional, Fitch, mengingatkan Malaysia untuk menekan jumlah utangnya. Pengurangan subsidi ini tampaknya bakal membuat masyarakat kesal. Belum lagi ada pajak baru yang dikenakan, ini menambah tingginya biaya hidup.

Najib mengatakan, pemerintah akan tetap melanjutkan program bantuan tunai kepada masyarakat miskin. Kemudian pajak barang dan jasa tidak akan dikenakan untuk barang-barang pokok seperti bensin.

Malaysia memprediksi defisit anggaran tahun depan adalah 3%, turun dari tahun ini 3,5%, dan tahun lalu 3,9%.

Rencana Najib ini akan mendapat perlawanan dari partai oposisi, yang menganggap informasi anggaran dari pemerintah tidak detil dan ada yang disembunyikan.

(dnl/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads