Β
Staf Khusus (Stafsus) Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan Firmanzah mengatakan kondisi kurs rupiah lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal yaitu soal investor yang masih menunggu kebijakan The Fed AS soal kenaikan suku bunga.
"Ini sebenarnya pernah kita alami semester II-2013, ketika The Fed rencana kurangi dan akhiri stimulus. Sekarang investor sedang konsolidasi terutama investor global," kata Firmanzah di Istana Negara, Senin (13/10/2014).
Ia juga mengatakan pelemahan nilai tukar tak hanya terjadi terhadap rupiah, namun juga terjadi pada mata uang di Asia lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menurut saya investor lebih khawatir kalau buruh turun ke jalan ketimbang dinamika di parlemen. Ketika buruh turun ke jalan, blokir bandara, kita harus antisipasi," katanya.
Firmanzah mengatakan pemerintahan baru bisa melakukan beberapa cara agar rupiah kembali perkasa, caranya merespons kebijakan The Fed yang berencana menaikkan suku bunga yang merupakan sinyal bahwa ekonomi AS membaik.
"Kalau The Fed sesuaikan suku bunga, kita juga harus sesuaikan. Pertumbunan ekonomi nggak akan setinggi yang kita harapkan di APBN 2015, tapi untuk cegah efek lebih dalam, itu harus dilakukan," katanya.
Selain itu, pemerintahan baru bisa melakukan kenaikan harga BBM subsidi, karena impor berkurang sehingga pasokan dolar tak banyak terbuang ke luar, dan memberikan persepsi positif bagi investor. Namun cara ini akan menyebabkan inflasi naik yang akan menyebabkan kenaikan suku bunga/BI rate.
"Kalau harga naik, buruh akan bergerak, minta sesuaikan KHL, upah minimum juga kan disesuaikan. Sektor riil jg hadapi tekanan yaitu daya beli masyarakat akibat penyesuaian BBM, kedua suku bunga, biaya kredit tinggi. Ketiga, dari biaya upah buruh. Ini yang mesti diperhatikan," katanya.
(hen/hds)











































