Harga Timah Anjlok, BUMN Ini 'Berdarah-darah'

Suramnya Bisnis Timah

Harga Timah Anjlok, BUMN Ini 'Berdarah-darah'

- detikFinance
Jumat, 17 Okt 2014 10:00 WIB
Harga Timah Anjlok, BUMN Ini Berdarah-darah
Jakarta - Anjloknya harga timah saat ini di bawah US$ 20.000 per metrik ton (MT) membuat kinerja keuangan produsen terbesar timah di Indonesia PT Timah (Persero) Tbk 'berdarah-darah'. Harapan pengusaha, harga timah bisa di atas US$ 23.000/MT.

"2005-2006 PT Timah hampir kolaps (bangkrut) karena pendapatan hanya Rp 60 miliar per bulan, saat itu harga timah hanya US$ 8.000 per MT, akibatnya terjadi PHK hingga 2.000-4.000 karyawan, itu pernah dikenang sebagai Oktober kelabu," kata Presiden Komisaris PT Timah Insmerda Lebang saat mengunjungi Redaksi detikFinance, Kamis (16/10/2014).

Lebang mengatakan, hal tersebut terjadi karena begitu banyaknya timah yang diekspor ke luar negeri, secara legal maupun ilegal, membuat harga timah anjlok di pasar global.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Namun ketika itu terjadi operasi, ekspor bahan baku atau ore timah dan lainnya sempat terhenti dan lambat laun harga timah kembali merangkak naik," ucapnya.

Ia mengatakan lagi, ketika ekspor ilegal timah mulai berkurang harga timah terus naik dan membuat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dapat beroperasi dengan baik dan meraih laba yang sangat besar.

"Pada 2007 kita cetak laba Rp 1,27 triliun, karena harga timah bagus," katanya.

Lebang mengungkapkan, saat ini kondisi pada 2005-2006 lalu kembali terulang, harga timah anjlok karena jor-jorannya ekspor timah. Ia mencontohkan kinerja perseroan pada Agustus 2014 hanya mendapatkan pendapatan Rp 60 miliar, jauh dari target, karena harga timah yang terlalu rendah.

"Harganya di bawah US$ 20.000/MT padahal kita baru bisa untung tipis kalau harganya US$ 23.000/MT, kita rapat terakhir kemarin jantung sudah nyut-nyutan lihat kinerja keuangan, kalau terus turun lagi bahaya ini," katanya.

Proyeksi PT Timah terhadap harga timah tahun adalah US$ 23.000/MT, namun kenyataan kini harga sudah mencapai US$ 19.700/MT artinya ada penurunan proyeksi US$ 3.000/MT.

Turunnya harga ini membuat Indonesia kehilangan Devisa Hasil Ekspor (DHE) triliunan rupiah per tahun. Bila ada penurunan harga US$ 3.000/MT dengan ekspor timah Indonesia per tahun sebanyak 100.000 ton maka ada DHE yang terbuang sekitar Rp 3,6 triliun per tahun.

Belum lagi bila dihitung dengan biaya produksi PT Timah yang mencapai US$ 17.000/MT, sedangkan harga harga jualnya hanya US$ 19.700 maka ada keuntungan yang tipis. Padahal perseroan harus menanggung beban-beban pasca tambang seperti reklamasi, royalti, pembayaran pajak dan lain-lain.

(rrd/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads