Kondisi Politik yang Damai Bisa Dorong Perekonomian RI

Kondisi Politik yang Damai Bisa Dorong Perekonomian RI

- detikFinance
Sabtu, 18 Okt 2014 09:11 WIB
Kondisi Politik yang Damai Bisa Dorong Perekonomian RI
Jakarta - Pergerakan ekonomi Indonesia ke depan akan ditentukan oleh situasi politik. Jika situasi memanas, maka ekonomi bisa terganggu, begitu juga sebaliknya.

Hal ini bisa dibuktikan dengan melihat beberapa waktu ke belakang. Saat kedua kubu politik, Koalisis Merah Putih (KMP) dan Koalisi Indonesia Hebat (KIH), berebut kursi di DPR pasar keuangan langsung anjlok.

Namun setelah kemarin Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) bertemu dengan mantan rivalnya di pemilu presiden (pilpres) Prabowo Subianto, dan berlangsung damai, pasar keuangan langsung sumringah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak, rupiah pun menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Johanna Gani, Managing Partner Grant Thornton Indonesia, mengatakan kondisi politik Indonesia yang memanas bisa mengganggu perekonomian.

"Situasi politik saat ini memberikan hambatan bagi aktifitas investasi nasional. Para investor menunda realisasi rencana investasi mereka di Indonesia. Hal ini dipicu oleh beberapa kebijakan yang dikeluarkan oleh parlemen yang ternyata mendapatkan respons negatif dari pasar. Bila Indonesia terus berkutat dengan kondisi politik yang memanas, perekonomian akan melemah," katanya dalam keterangan tertulis, Sabtu (18/10/2014).

“Indonesia harus mampu memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi global, di mana stabilitas politik adalah prasyarat yang utama. Deputi Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro, mengatakan bahwa proses politik di Indonesia memberikan kontribusi yang signifikan bagi pelemahan parameter-parameter ekonomi nasional. Banyak orang merasa khawatir atas perkembangan situasi politik domestik yang terjadi," tambahnya.

Menurut hasil riset terbaru dari Grant Thornton International Business Report (IBR), optimisme para pelaku bisnis Indonesia terhadap kondisi ekonomi dan lingkungan bisnis dilaporkan stagnan pada posisi 48% untuk kuartal ketiga tahun ini. Tapi posisinya masih berada di atas rata-rata optimisme para pelaku bisnis global yang berada pada posisi 43%.

Hasil ini menempatkan Indonesia di peringkat 14 dari 34 negara yang disurvey pada kuartal ketiga tahun 2014, di belakang India (95%), Selandia Baru (80%), Thailand (71%), Singapura (66%), RRC (55%), Australia (53%), dan Malaysia (50%) di kawasan Asia-Pasifik.

Di kawasan ASEAN, IBR melaporkan peningkatan optimisme bisnis yang cukup signifikan dengan net balance 56%, dari posisi sebelumnya 43%, di mana Indonesia adalah negara ASEAN dengan optimisme bisnis terkuat keempat.

Para pelaku bisnis di Indonesia tidak terlalu optimis dengan prospek pembukaan lapangan pekerjaan baru, terjadi penurunan ke posisi 22% dari posisi sebelumnya net 40% pada Q2 2014. Investasi dalam bangunan baru juga mengalami penurunan tajam ke posisi 26%, mencerminkan penurunan 12% dari kuartal lalu.

Penurunan sebesar 10% juga dilaporkan terjadi pada ekspektasi untuk penelitian dan pengembangan, dari posisi sebelumnya 36% ke posisi 26% pada kuartal ini.

“Survei dari bank sentral Indonesia, Bank Indonesia, melaporkan bahwa optimisme konsumen mengalami sedikit penurunan ke 119.8 poin di bulan September 2014, setelah tercatat pada 120.2 poin di bulan sebelumnya; hasil ini sejalan dengan Grant Thornton IBR. Konsumen memberikan perhatian yang besar kepada potensi peningkatan harga, yang akan berdampak kepada penurunan daya beli. Kekhawatiran ini terutama dipicu oleh rencana kenaikan harga BBM bersubsidi sebelum tahun 2014 berakhir,” katanya.

"Di luar ketidakpastian jangka pendek yang terjadi, kami masih meyakini bahwa para pelaku bisnis di Indonesia masih tetap optimis dalam jangka panjang," ujarnya.

Menurut data risetnya, terdapat peningkatan optimimisme atas harga jual dalam kurun waktu 12 bulan ke depan, dari posisi 36% pada kuartal lalu menjadi 46% pada kuartal ini.

Regulasi bisnis, pasokan tenaga kerja dengan keahlian yang memadai, serta ketersediaan infrastruktur transportasi dan teknologi komunikasi informasi diyakini sebagai faktor determinan bagi pertumbuhan bisnis mereka.

"Ini merupakan sinyalemen positif bahwa bisnis di Indonesia memiliki perspektif yang jauh ke depan, dan memiliki harapan akan pertumbuhan pada ekonomi negara," jelasnya.

(ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads