Cerita Air Galon dan Buruh DKI yang Minta UMP di Atas Rp 3 Juta/Bulan

Cerita Air Galon dan Buruh DKI yang Minta UMP di Atas Rp 3 Juta/Bulan

- detikFinance
Rabu, 22 Okt 2014 11:35 WIB
Cerita Air Galon dan Buruh DKI yang Minta UMP di Atas Rp 3 Juta/Bulan
Jakarta - Para serikat buruh punya versi hasil survei Kebutuhan Hidup Layak (KHL) tertinggi di sebuah pasar Jakarta yang mencapai Rp 3.051.770/bulan, sedangkan pengusaha punya versi KHL sebesar Rp 2.377.135 (di bawah UMP 2014 sebesar Rp 2,441 juta).

Selama ini KHL menjadi pertimbangan pemerintah daerah untuk menetapkan UMP tahun berikutnya. Dengan perhitungan KHL Rp 3.051.770/bulan maka buruh mendesak UMP DKI 2015 di atas Rp 3 juta/bulan.

Perbedaan ini muncul karena kedua pihak punya pendekatan yang berbeda dalam menghitung KHL yang jumlahnya mencapai 60 komponen. Bagi buruh, perbedaan angka KHL terjadi karena hitungan versi pengusaha terlalu menekan harga riil di lapangan dalam melakukan survei.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Sekertaris Jenderal Forum Buruh DKI, M Toha menyebutkan, kejanggalan terjadi dalam penetapan beberapa item KHL seperti nilai kebutuhan air minum dan air bersih dalam sebulan yang hanya sekitar Rp 9.000.

"Artinya hanya setara dengan 3 botol air mineral padahal kebutuhan air minum sebulan sekitar 3 galon air mineral atau Rp 39.000 dan air PAM sekitar Rp 50.000," kata Toha dalam situs resmi KSPI dikutip, Rabu (22/10/2014).

Menurut Toha, seharusnya biaya untuk air minum dan air bersih selama sebulan Rp 89.000/bulan, mencakup 3 galon air dan untuk membeli air PAM.

Toha juga menambahkan kejanggalan lainnya terjadi seperti biaya rekreasi yang hanya dalam sebulan ditetapkan hanya sebesar Rp 1.916. Menurutnya biaya sebesar itu, tak cukup untuk ongkos naik Metro Mini.

“Padahal kalau kita ambil nilai nonton film di bioskop saja untuk sebulan sekali saja sudah Rp 55.000," katanya.

Ia menganggap, hitungan pengusaha terhadap KHL yang lebih rendah karena ada item KHL yang dihitung sangat kecil nilainya seperti kebutuhan daging dan pendidikan, dan item KHL lainnya.

"Ketika item kebutuhan daging di-combine dengan kebutuhan daging ayam maka didapati harganya jauh lebih murah. Metode menghitung harga rata-rata juga salah dalam hitungan besaran KHL-nya sehingga juga menjadi penyebab kecilnya besaran KHL DKI," katanya.

Buruh beralasan, perhitungan KHL mereka lebih besar karena ada beberapa item barang dalam KHL yang mengalami perubahan dari sisi harga maupun kuantitas seperti susu bubuk dari harga Rp 70.000/kg menjadi Rp 90.000/900 gram, deterjen dari Rp 15.000/1,5 kg menjadi Rp 25.000/900 gram.

(hen/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads