Kurtubi: Subsidi BBM Rp 70 Triliun Sebagian Tidak Riil
Kamis, 13 Jan 2005 16:11 WIB
Jakarta - Pengamat migas Kurtubi menyatakan, jumlah subsisdi BBM yang sekitar Rp 70 triliun sebagian ada yang tidak riil atau rekayasa. Namun dia mau menyebut berapa nilai subsidi yang tidak riil itu. "Subsidi untuk BBM itu memang sebagian ada yang riil dan tidak riil. Jadi ada uang cash yang keluar, tidak semua Rp 70 triliun itu keluar dalam bentuk cash," kata Kurtubi di sela-sela acara seminar yang diadakan di STIE IBI di Jalan Yos Sudarso, Jakarta Utara, Kamis (13/1/2005).Dia menjelaskan subsisdi Rp 70 triliun itu, yang riil adalah membayar impor minyak mentah, BBM, bahan bakar untuk keperluan industri kilang dan untuk distribusi BBM-nya sendiri."Tetapi sebagai gambaran setiap bulan dari Rp 10 triliun untuk setiap bulannya Rp 6 triliun digunakan untuk impor. Jadi untuk impor minyak mentah saja sudah 60 persen. Jadi yang tidak riil itu opportunity untuk memperoleh revenue pemerintah menjadi hilang," katanya.Sementara itu mengenai kenaikan harga BBM, Kurtubi meminta pemerintah untuk menaikan harga BBM secara bertahap. "Tidak boleh spontan, acuannya mengau pada biaya pokok BBM dulu. Itu pun dua atau tiga kali untuk mencapai biaya pokok, sehingga dampak negatifnya tidak terlalu dirasakan masyarakat," ungkapnya.Saat ditanya wartawan berapa kenaikan yang bisa diterima masyarakat, Kurtubi menilai bisa berkisar antara 20 hingga 30 persen. "Itu masih bisa diterima masyarakat," kata Kurtubi. Dana pengalihan dari subsisdi itu bisa digunakan untuk menciptakan lapangan kerja, tambahnya. Untuk mengatasi dampak negatif kenaikan BBM sebaiknya pemerintah menertibkan pungli-pungli di stasiun, terminal bus, pelabuhan dan jembatan timbang. "Agar dampak kenaikan barang lebih minimum," pintanya.
(mar/)











































