Sayangnya, pengusaha roti di Indonesia masih terbentur soal produktivitas sumber daya manusia. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Bakery Indonesia, Chris Hardijaya mengatakan bisnis bakery masih didominasi produk roti, yang perputaran uangnya mencapai Rp 11-12 triliun per tahun, dari total Rp 20 triliun.
"Untuk bakery di Indonesia, urutan terbesar itu roti 60%, kue tradisional 25%, cake itu 5%, kue kering itu masih 10%. Omzetnya mencapai Rp 20 triliun," tutur Chris dalam Konferensi Pers Pameran Bakery International di German, di Hotel Shangri-La, Jakarta, Kamis (23/10/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan Chris, saat ini lulusan-lulusan Sekolah Menengah Kejuruan, Sekolah Tinggi Pariwisata yang mengambil jurusan bakery atau tata boga memilih bekerja di hotel atau restoran ketimbang memiliki usaha sendiri.
"Kelemahan kita di Indonesia, SDM kita sangat kurang. Cari SDM di bakery, sangat menjemukan. STP (Sekolah Tinggi Pariwisata), SMK itu orientasi mereka kerja di hotel," tuturnya.
Alasannya, lanjut Chris, bukanlah karena bayarannya yang lebih tinggi di hotel, melainkan karena alasan bekerja di hotel atau restoran lebih bergengsi ketimbang kerja di produsen roti, apalagi kelas UKM.
"Di hotel itu punya kebanggaan. Di perusahaan bakery yang kita pakai itu otodidak. Produktivitasnya kurang," tutup Chris.
(zul/hen)











































