Dalam beberapa tahun terakhir, harga komoditas cenderung bertahan di level rendah. Ini menjadi salah satu faktor risiko dan kelemahan bagi sejumlah negara. Salah satu negara yang kena dampaknya adalah Indonesia.
Hal tersebut dikemukakan kala memberi sambutan dalam acara pertemuan menteri keuangan negara-negara APEC di Beijing, Tiongkok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bank Dunia, lanjut Sri Mulyani, memiliki indeks harga energi. Dia menyebutkan indeks energi Bank Dunia turun sekitar 6% pada kuartal III-2014.
Penurunan harga komoditas, tambah Sri Mulyani, bagai dua sisi mata uang. Ini berdampak positif bagi negara-negara yang impornya besar, tetapi menyakitkan bagi negara-negara yang perekonomiannya mengandalkan ekspor komoditas.
"Negara-negara pengekspor komoditas seperti Indonesia adalah contoh yang mengalami dampak negatif jika penurunan harga komoditas terus terjadi. Sementara untuk negara seperti Kamboja, justru diuntungkan karena impor akan lebih murah," papar Sri Mulyani, yang disebut-sebut akan mengisi posisi menteri di kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Situasi ini, menurut Sri Mulyani, sangat mempengaruhi aktivitas ekonomi. Oleh karena itu, para pembuat kebijakan diharapkan terus berupaya menstabilkan ekonomi dan memperkuat fundamental.
(hds/dnl)











































