Ada beberapa pembicaraan antara pihak perwakilan buruh dengan Ahok, termasuk soal Kebutuhan Hidup Layak (KHL) di DKI lebih rendah daripada Kabupaten Tangerang, Banten.
Persoalan membandingkan KHL ini lah yang membuat Ahok sempat gebrak meja saat bertemu buruh. Perhitungan angka KHL akan menjadi salah satu pertimbangan Ahok menaikkan UMP 2015.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya saat itu seharusnya masalah survei KHL sudah selesai. Tapi kekesalannya memuncak ketika buruh protes soal komponen buah-buahan pisang dan pepaya yang dianggap membuat nilai KHL jadi lebih rendah. Persoalan lain dalam perhitungan KHL DKI antaralain soal jenis daging yang masuk dalam komponen KHL.
Ahok mengungkapkan metode penghitungan KHL di DKI memang berbeda dengan yang dipakai Tangerang yakni pakai sistem rata-rata. Misalnya soal daging, dalam item KHL daging DKI Jakarta dihitung atas dasar rata-rata harga daging sapi dan daging ayam sebesar Rp 47.000 per bulan sementara di Tangerang item daging hanya dihitung daging sapi senilai Rp 100.000 per bulan.
"Mereka enggak mau daging dirata-ratain. Lagian emang kamu mau makan daging sapi doang? Ya enggak kan, mesti fair dong. Kebutuhan protein hewani itu kan bisa ayam bisa sapi, jadi diambil rata-rata. Kayak buah, dibilang gara-gara pepaya jadi murah. Memangnya pepaya sama pisang bukan buah-buahan. Saya juga makan buah pepaya sama pisang tiap hari walaupun saya punya uang operasional gede. Saya enggak beli buah import," jelas Ahok di Balai Kota, Jakarta Pusat, Jumat (24/10/2014).
Mantan Bupati Belitung Timur ini juga menganggap kalangan buruh kerap mematok kenaikan UMP, sehingga nilai KHL yang disurvei disesuaikan dengan target kenaikan UMP yang mereka inginkan.
"Mereka itu gini persoalannya dia targetnya mesti naik 30% jadi supaya naik, item KHL itu diatur-atur. Kadang-kadang ini dimain-mainin. Makanya saya bilang, kalau kayak gitu saya enggak bisa belain kalian. Saya setuju kalau mau dinaik-naikin, tapi mesti fair supaya saya bisa tanggungjawab ngomong depan orang," pungkas Ahok.
Ahok mengkonfirmasi saat itu ia memang sangat kesal dengan buruh, namun bukannya menggebrak meja.
"Enggak, aku enggak gebrak meja. Itu botol. Kesal saja. Habis ngototnya itu plin-plan tau gak," katanya. Hal ini dikatakannya sambil memperagakan menggenggam botol di kedua tangannya lalu menghempaskannya ke bawah.
Sebelumnya, Kamis (23/10) siang kemarin Ahok menerima sekitar 20-an perwakilan buruh. Mereka rapat selama sekitar satu jam. Ketika di dalam ruangan suara Ahok sempat meninggi bahkan sampai terdengar ke luar ruangan. Menurut salah seorang yang ikut di ruang rapat, Ahok sempat menggebrak meja.
(ros/hen)











































