Perusahaan Ini Latih 45 Petani Sawit 'Liar' Agar Dapat Sertifikat

Perusahaan Ini Latih 45 Petani Sawit 'Liar' Agar Dapat Sertifikat

- detikFinance
Jumat, 24 Okt 2014 17:48 WIB
Perusahaan Ini Latih 45 Petani Sawit Liar Agar Dapat Sertifikat
Palembang - Anak usaha Cargill Tropical Palm Holdings, PT Hindoli Cargill memberikan pelatihan dan pembinaaan pada petani sawit 'liar'. Petani-petani tersebut dibina agar mendapatkan sertifikat sawit berkelanjutan atau Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO).

Hindoli memberikan binaaan kepada para petani swadaya atau petani Mandiri sebanyak 45 orang dengan total areal lahan seluas 90 hektar. Mereka mendapat pembinaan selama dua tahun hingga akhirnya para petani tersebut mengantongi sertifikat RSPO, setelah sebelumnya, Hindoli juga memberikan sertifikasi kepada 8.800 KK petani plasma.

"Kami menyadari di lingkungan seputaran PT Hindoli sendiri, banyak petani swadaya yang belum ada pembinaan oleh siappun. Dari sana Manajemen berpikir apakah bisa petani swadaya yang tadinya tidak jelas, kita Bina untuk mendapatkan RSPO,"‎ kata Chief Farmer Development Manager, Joko Wahyu Priadi saat konferensi pers di Hotel Aston, Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (24/10/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejak tahun 2012, Hindoli melakukan pembinaan kepada 45 petani yang tergabung dalam koperasi Tani Maju. Padahal, potensi petani swadaya yang bisa dibina mencapai ribuan dengan total lahan seluas 10.000 hektar.

Karena menurut Joko, tidak mudah untuk meyakinkan para petani agar mau dibina. Setelah melakukan pendekatan selama 1-2 bulan, akhirnya para petani di kawasan Musi Banyuasin, Sumatera Selatan tersebut mau dibina dan diberi pengarahan agar bersertifikat.

"Ada 8 prinsip dan 39 kriteria yang harus dipenuhi," tutur Joko.

Pembinaan pelatihan mencakup tata cara berkebun sawit yang benar. Sebagai contoh, lanjut Joko adalah cara bagaimana memerangi hama tikus yang kerap menggerogoti hasil sawit hingga membuat petani mengalami kerugian.

Semua program pembinaan hingga pembuatan sertifikasi yang dilakukan anak usaha Cargill ini gratis, tanpa dipungut bayaran. Bulan Mei tahun ini, ke-45 petani tersebut sudah mengantongi RSPO.

Joko mengatakan, keuntungannya bagi Cargill adalah produk hasil sawit yang dihasilkan para petani dari koperasi Tani Maju itu akan dijual ke Cargill, dengan harga mengikuti ketetapan pemerintah daerah, yaitu sekitar Rp 1.400 sampai Rp 1.500/kg TBS (tandam buah segar).

"Keuntungannya jelas bagi petani swadaya yang tadinya nggak jelas, jadi jelas. Dan ini free tanpa dipungut bayaran," tuturnya.

Sementara itu, salah seorang petani dari Tani Maju, Dibyo Wibowo mengaku sangat senang dengan program yang dilakukan oleh Hindoli. Meski di awal dia sempat ragu dan khawatir karena dianggap hanya akan menghabiskan waktu dan tenaga sia-sia, akhirnya dia dan kelompoknya mau bergabung dan mendapatkan pembinaan.

"Kami pertamanya merasa tak ada pembinaan, karena memang kami dari petani yang bisa dibilang liar. Akhirnya karena kami ingin tahu bagaimana berkebun yang lestari kami ikut, dan alhamdulillah," tutur Dibyo.

Ke depan, Hindoli akan terus merangkul para petani swadaya agar mau dibina. Ada beberapa hal yang menjadi persyaratan khusus bagi petani yang bakal mendapatkan RSPO, yaitu status lahannya jelas sertifkat hak milik dan bibitnya berkualitas

"Kami sedang melakukan pendekatan. Luasan dalam waktu dekat ini 50-500 hektar," kata Joko.

Petani sawit terbagi menjadi tiga yaitu inti, plasma dan swadaya. Petani inti adalah petani yang merupakan karyawan perusahaan sawit yang lahannya milik perusahaan tersebut proses, hingga penjualan hasil tani dijual ke perusahaan itu.

Petani plasma adalah petani yang dibantu oleh perusahaan sawit untuk memiliki lahan dan mengelola, mulai dari pembukaan lahan, pembibitan hingga pema‎nenan dan penjualan oleh perusahaan sawit. Mereka terikat kontrak dengan perusahaan untuk menjual hasil taninya ke perusahaan.

Sedangkan petani swadaya adalah petani yang tidak terikat apapun dengan perusahaan. Mereka bisa juga disebut petani mandiri, memiliki lahan sendiri, mengelola sendiri hingga menjual produknya sendiri.

(zul/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads