"Sebagian kan memang tugas saya di Perhubungan. Nanti kami selesaikan secepatnya," kata Jonan saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Rabu (29/10/2014).
Saat ini, lanjut Jonan, masalah di proyek kereta bandara adalah pembebasan lahan. "Saya kira itu pembebasan tanah lorong 21 dan 22," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Jonan kala masih menjadi Dirut KAI punya solusi untuk membebaskan lahan proyek kereta bandara. Caranya adalah memberikan posisi pegawai tetap untuk kepala atau anggota keluarga yang tanahnya terkena proyek pembangunan.
"Setiap warga yang tanahnya mau bebaskan ditawari jadi pegawai KAI," kata Jonan kala itu.
Untuk menjadi pegawai, Jonan akan membagi level atau posisi berdasarkan tingkat pendidikan. Jika lolos seleksi, maka akan diterima sebagai pegawai.
"Dia diberi jalur khusus sesuai jenjang pendidkan dan harus lolos tes kesehatan," jelasnya.
Skema penawaran ini merupakan cara baru yang ditempuh KAI. Karena selama ini KAI mengadapi kendala pembebasan lahan yang cukup berliku, khususnya untuk jalur Batu Ceper-Bandara Soetta sepanjang 12 kilometer. Setidaknya ada ribuan kepala keluarga yang tanahnya terkena proyek KRL bandara.
(hds/ang)











































