Pasar Santa: Di Atas Gaul, di Bawah Sembako

Pasar Santa: Di Atas Gaul, di Bawah Sembako

- detikFinance
Minggu, 02 Nov 2014 09:41 WIB
Pasar Santa: Di Atas Gaul, di Bawah Sembako
Jakarta - Kesan kumuh dan becek selalu terbayang ketika mendengar kata pasar tradisonal. Pandangan itu yang membuat pasar semakin ditinggalkan masyarakat perkotaan, lantaran kalah saing dengan swalayan yang lebih bersih.

Hal itu pula yang dialami Pasar Santa. Sejak selesai pembangunan konstruksinya pada tahun 2007 oleh PD Pasar Jaya, pasar ini nyaris tak diminati. Tanpa pedagang, dan tanpa pembeli.

"Konstruksi selesai 15 Mei 2007, Pasar Santa jadi pasar permanen (memiliki bangunan permanen). Ada 1.151 kios tapi nggak banyak yang mengisi. Bisa dibilang mati suri lah," ungkap Dirut PD Pasar Jaya Djangga Lubis kala berbincang dengan awak media, Sabtu (1/11/2014) malam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi sepi tersebut bertahan hingga 7 tahun lamanya. Hingga dengan bantuan Kepala Pasar Santa Bambang Sugiarto, Djangga pun mencoba kembali menghidupkan pasar ini.

Bak gayung bersambut, usaha tersebut mendapat respons positif dari kalangan pelaku usaha industri kreatif. Alhasil pada 25 Juli 2014 sejumlah pelaku industri kreatif bergabung mengisi kios-kios yang telah lama kosong.

"Waktu itu setelah lebaran, jadi sekitar 3 bulan lalu. Kita yang sedang pusing menghidupkan pasar. Kebetulan pak Bambang dapat usulan dari komunitas pedagang. Idenya sederhana sih, ikut-ikut sedikit seperti konsep convenience store. Ternyata respons anak muda bagus," jelas Djangga.

Pertemuan kreatif ini berbuah kemajuan luar biasa. Sekitar 350 kios di lantai paling atas yang semula kosong kini sudah terisi penuh. "Seperti sulap," ujarnya.

Pasar Santa pun akhirnya berubah wajah. Berbagai Industri kreatif bekumpul di pasar ini. Para pengunjung bisa menjumpai berbagai kios yang menjajakan panganan unik bergaya modern.

Menu yang disajikan pun sangat beragam. Mulai dari yang selera nusantara, Meksiko, Amerika, dan lain-lain. "Pokoknya tinggal pilih," tandasnya.

Pengunjung juga akan menemukan sejumlah kios yang menawarkan aneka produk fesyen berjiwa muda dari mulai sepatu, kaos oblong, jaket, dan pernak-pernik lain. Dengan semua ide kreatif ini, Pasar Santa kini menyandang predikat 'Pasar Gaul' yang diberikan oleh Menteri Perdagangan Rachmat Gobel.

Namun, meski pasar kreatif ini sudah mulai aktif beroperasi, bukan berarti fungsi pasar tradisional ditinggalkan. Di lantai basement, para pengunjung dapat menjumpai pedagang yang menjual berbagai bahan kebutuhan pokok dari mulai sayuran, daging, ayam, bumbu-bumbu dapur, dan sebagainya.

"Konsep yang belum pernah ada. Di atas jadi tempat gaul, di bawah ada pasar tradisionalnya," kata Djangga.

Dengan konsep ini, Pasar Santa sebenarnya punya fungsi baru yang unik yaitu mempertemukan sektor industri hulu dan hilir dalam satu lokasi.

"Pedagang sayar dan daging di bawah, di atas pedagang yang menjual makanan. Pedagang yang di atas belanja bahan bakunya dari pedagang yang di bawah. Jadi saling sinergi, saling melengkapi," paparnya.

Namun demikian, pengembangan pasar yang akan menjadi model percontohan pengembangan pasar-pasar lain di nusatara ini tetap perlu penyempurnaan. Djangga menyebut, penyempurnaan terutama menyesuaikan dengan kebutuhan perkotaan yang modern.

"Kita nggak akan pasang AC (pendingin ruangan), namanya juga pasar. Tapi mungkin ada beberapa penyempurnaan dari sisi parkir, kemudian pencahayaan, kemudian atap kita kasih semacam peredam panas. Karena kalau siang ini panas sekali, jadi perlu ada sedikit rekayasa lagi biar sempurna," terangnya.

(dna/hds)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads