Sosok Susi bisa dibilang sebagai pribadi yang unik, selain karakter kepemimpinannya yang kuat, ia juga sebagai pribadi yang berani. Bahkan dalam rapat-rapat kabinet, Susi secara terang-terangan menyampaikan fakta-fakta di depan Presiden Jokowi yang membuat orang nomor satu di Indonesia tersebut kaget.
Berikut beberapa penggalan cerita Menteri Susi, dari persoalan karakter pribadinya hingga sikapnya yang sempat membuat Jokowi kaget.
1. Menteri yang Disebut Gila
|
|
Dia sempat bertanya kepada Jokowi kenapa dirinya dipilih sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan.
"Bapak (Jokowi) berani pilih saya, saya sangat surprise," kata Susi saat bertemu dengan jajaran pengusaha Kadin akhir Oktober lalu.
Susi mengatakan, saat dirinya masih menjadi Bos Susi Air, dia kerap berhubungan dengan menteri-menteri di jajaran kabinet. Karena sifatnya yang keras dan sedikit 'nyeleneh', Susi mengaku dirinya sering disebut 'Susi Gila'.
"Bapak-bapak menteri di kabinet menyebut saya Susi gila. Kalau saya punya mau tidak jalan, saya teriak. Teriaknya ke mana-mana, hasilnya masa bodoh," tutur Susi.
Tapi pada akhirnya, lanjut Susi, Presiden Jokowi membutuhkan sosok yang keras seperti dirinya, hingga kemudian dipilih untuk mengemban tugas sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan.
"Kata beliau (Jokowi), kita perlu orang gila. So, I take my job (saya ambil pekerjaan ini)," kata Susi
2. Sempat Bikin Jokowi Kaget
|
|
Hal ini Susi ungkapkan kepada media usai bertemu Jokowi pagi tadi dalam sidang kabinet di Istana Negara, Jakarta.
"Kita bilang kepada presiden dan presiden menjawab, oh seperti itu. Saya tadi bicara di rapat kabinet," ungkap Susi kemarin di kantornya.
Susi menjelaskan pemerintah Malaysia memberikan banyak kemudahan dan keringanan kepada investor dalam berinvestasi di sektor perikanan. Seperti pemberian kebijakan bebas pajak 7-12 tahun, reward of any investment, dan investor hanya membayar kredit di sektor perikanan hanya sebesar 3%.
Lain di Malaysia, justru di Indonesia jumlah dana yang digelontorkan investor jauh lebih besar. Investor harus mengurus nama perusahaan dan pendaftaran pada instansi terkait, izin prinsip bayar, biaya IMB (Izin Mendirikan Bangunan), biaya peletakan batu pertama nilainya 4,5%, impor mesin dengan PPH 2,5%, kredit perikanan nilainya 12-15%, retribusi 4%, dan pajak pembelian 2%.
"(Kalau ditotal) Indonesia 40%, Malaysia hanya 3% karena yang lain free," kata Susi.
Rumit dan mahalnya investasi di sektor perikanan laut di Indonesia menyebabkan pelaku usaha berpikir pendek dengan melakukan illegal fishing.
"Ini wrong. Kenapa orang tidak mau investasi di Indonesia? Makanya orang lebih baik mencuri dibandingkan investasi. Terlalu banyak cost," papar Susi.
3. Bikin Tegang Anak Buah
|
|
Hal itu terjadi pada akhir Oktober lalu saat Susi ditanya tentang kepatuhan negara mitra Indonesia dalam hal penangkapan ikan.
Mendengar pertanyaan itu, Susi lantas segera bereaksi dengan melontarkan kata-kata tegasnya.
"Untuk apa jalan kita mem-pressure karena beberapa negara tidak mau ikut dengan aturan. Kalau tidak mau, get out, you cannot fish in our territory, finished," tegas Susi yang disambut suasana diam dan tegang.
Sebelumnya juga, Susi Pudjiastuti sempat menggelar inspeksi mendadak (sidak) di Gedung Mina Bahari II tempat operasional Ditjen Perikanan Tangkap. Hal ini juga sempat membuat tegang anak buahnya.
"Saya tidak masalah kerja sampai malam, biasanya saya kerja sampai jam 11 malam," kata Susi sebelum memulai sidak, di kantornya, Jakarta, Rabu (29/10/2014).
Ditemani Sekjen Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Syarief Widjaja dan Dirjen Perikanan Tangkap Gellwyn Yusuf, sidak Susi sempat membuat panik petugas keamanan gedung KKP.
Selain itu, Susi sempat mempertanyakan pendapatan kapal 30 gross ton (GT) di Indonesia yang hanya Rp 300 miliar/tahun. Kapal ukuran 30 GT di Indonesia jumlahnya hampir mencapai 5.000 unit, sehingga jika dirata-ratakan pendapatan hanya Rp 60 juta/tahun.
Susi yang rapat dengan Dirjen Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Gellwyn Yusuf dan Sekjen KKP Syarief Widjaja menilai angka Rp 300 miliar tersebut sangat minim. Dengan nada sedikit tinggi, Susi banyak mengeluarkan komentar bernada sindiran.
4. Dapat 'Jempol' Dari WWF
|
|
"Prinsip perikanan berkelanjutan mengedepankan praktik perikanan yang ramah lingkungan, memperhatikan keberlanjutan stok ikan, dan menerapkan pengelolaan perikanan yang berbasis ekosistem," kata Direktur Konservasi WWF-Indonesia Arnold Sitompul, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (31/10/2014).
Arnold menambahkan, gebrakan Susi lainnya yakni pemberantasan illegal fishing, moratorium izin baru kapal penangkap ikan, pelarangan penebangan bakau dan penggunaan bahan kimia untuk tambak budidaya, serta pelarangan penangkapan dan perdagangan ikan bertelur, merupakan unsur-unsur terkait perikanan berkelanjutan. Demikian juga dengan pengaturan eksploitasi sumber daya ikan untuk menjaga kelestarian stok ikan atau yang dikenal sebagai harvest control rule, hingga rencana penghapusan subsidi BBM yang dialihkan ke kesejahteraan nelayan.
Halaman 2 dari 5











































