Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian Emilia Harahap mengatakan pertemuan IGG Tea ini sangat penting dalam menentukan masa depan pengembangan teh dunia.
Ia yakin forum ini akan menemukan solusi terbaik untuk mendukung negara-negara anggota untuk mengatasi masalah dan tantangan sektor teh yang cukup kompleks.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Emilia menjelaskan masalah mendasar seperti produktivitas teh masih rendah menjadi kendala utama produksi teh di Indonesia. Masalah produksi terkait dengan tanaman rusak, listrik, benih unggul, pemeliharaan, dan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang rendah serta adanya pemanasan global dan perubahan iklim
"Maka upaya yang dapat dilakukan ialah melalui pendekatan regional holistik dan berkelanjutan dengan intensifikasi, rehabilitasi, peremajaan, pengembangan SDM dan memperkuat kerjasama dengan industri dan petani teh, penyediaan bahan tanam baru, dan penanganan pascapanen," katanya.
Acara IGG Tea digelar di Hotel Grand Royal Panghegar Bandung, Rabu (5/11/2014). Hadir 19 negara anggota IGG Tea, antara lain Srilanka, Kenya, Tiongkok, Jepang, Inggris, Italia, Bangladesh, Amerika Serikat, dan Malawi.
IGG Tea sendiri adalah forum yang berada di bawah Organisasi Pangan Dunia (FAO). Pertemuan dilakukan setiap 2 tahun sekali, dan di Bandung ini adalah yang ke-21.
Indonesia merupakan produsen teh dunia, total produksi daun teh pada 2013 mencapai 152.674 ton atau naik 1,2%dibandingkan tahun sebelumnya 150.949 ton dan total nilai ekspor daun teh tercatat US$ 157 juta pada 2013.
(hen/hen)











































