Dubes Jepang Bujuk Menperin Percepat Pelabuhan Cilamaya

Dubes Jepang Bujuk Menperin Percepat Pelabuhan Cilamaya

- detikFinance
Kamis, 06 Nov 2014 14:45 WIB
Dubes Jepang Bujuk Menperin Percepat Pelabuhan Cilamaya
Jakarta - Menteri Perindustrian Saleh Husin siang ini disambangi oleh Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Yasuaki Tanizaki. Salah satu yang dibahas adalah percepatan pembangunan Pelabuhan Cilamaya, Karawang.

Direktur Jenderal Kerjasana Industri Internasional, Agus Tjahjana mengatakan, kedatangan delegasi Jepang tersebut sekalian perkenalan dengan Saleh Husin selaku menteri baru. Di samping itu, Jepang ingin pelabuhan Cilamaya segera dibangun.

"Bagaimana mempercepat Cilamaya. Cilamaya adalah bagian alternatif dari pelabuhan Tanjung Priok. Mereka mengatakan bahwa Pak Menteri, sudah diperlukan inisiatif ke arah pembangunan itu," kata Agus usai mendampingi Saleh Husin bertemu delegasi Jepang, di kantornya, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (6/11/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pembangunan pelabuhan ini memang ditunda, karena lokasinya bertepatan dengan pipa-pipa dari Pertamina Hulu Energi ONWJ. Pertamina bakal rugi triliunan rupiah bila pelabuhan ini dibangun.

Agus mengatakan, terkait dengan penolakan dari Pertamina β€Žakan dicarikan solusi, seperti penggeseran lokasi pelabuhan atau lainnya. Menurutnya, jika akan dibangun, Jepang siap membantu melalui Japan International Cooperation Agency (JICA).

"Mereka tidak keberatan, studinya juga akan dilakukan. Nanti seperti rerouting seperti itu," katanya.

Sementara itu, Yasuaki Tanazaki mengatakan, selain berkenalan dengan menteri baru, kedatangan dirinya mewakili pemerintahan dan perusahaan-perusahaan asal Jepang untuk menunjukkan komitmennya terus berinvestasi di Indonesia.

Selama ini, perusahaan Jepang banyak berinvestasi dengan membangun perusahaan-perusahaan berskala besar. Ke depan menurutnya, perusahaan kelas kecil dan menengah pun akan didorong untuk berinvestasi di Indonesia.

"Ke depan saya berharap, ini skala menengah dan kecil, memberikan investasi di Indonesia terutama agar bagian atas menjadi lebih kokoh," tutupnya.

Pihak Pertamina pernah mengatakan, fasilitas yang akan terkena dampak dan harus dipindahkan jika Pelabuhan Cilamaya jadi dibangun, antara lain:

  • BTSA Platform yang memiliki cadangan minyak 3 juta barel setara minyak (mmboe).
  • Dumping Area @LU, SPA Development yang saat ini masih memiliki cadangan 70 miliar kaki kubik.
  • Ship Anchorage di faslitas KLU Development yang saat ini masih memiliki cadangan 2 juta barel minyak dan gas 36 miliar kaki kubik.
  • LESA platform yang aktif memproduksi 12 juta kaki kubik per hari gas bumi dan masih memiliki cadangan 7 juta barel setara minyak.
  • KLA Manned Flowstation di KLB dan KLC Platform yang aktif memproduksi 5.600 barel minyak per hari dan gas bumi 33 juta kaki kubik per hari, dan masih memiliki cadangan migas 58.3 juta barel setara minyak.
  • Crossing 2 pipa migas yang menyalurkan 8.300 barel minyak per hari dan menyalurkan gas bumi 148 juta kaki kubik per hari.
  • Crossing 2 pipelines yang menyalurkan minyak 4.700 BOPD dan gas bumi 10 MMSCFD.
  • Crossing Pipeline LIMA PARIGI yang dimiliki Pertamina EP yang menyalurkan gas 76 MMSCFD.
  • Crossing Pipeline yang menyalurkan minyak 500 BOPD dan gas bumi 13 MMSCFD.
General Manager PHE ONWJ Jonly Sinulingga pernah mengungkapkan, untuk biaya pembangunan 1 unit anjungan minyak, PHE ONWJ harus menggelontorkan dana Rp 1 triliun.

(zul/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads