"Saya kira ini (UMP) juga enggak akan naik terlalu banyak. Kalau KHL-nya kira-kira Rp 2,4 juta. Berarti UMP 2015 sekitar Rp 2,7 juta," jelas Plt Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Balai Kota, Jakarta, Kamis (6/11/2914).
Besaran UMP ini berarti di bawah tuntutan kalangan buruh yang mengharapkan UMP tahun depan Rp 3 juta/bulan. Ahok meminta kalangan buruh dan pengusaha tidak perlu meributkan soal kenaikan UMP ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Waktu menentukan (UMP) yang 2014, di 2013, tidak ada yang ribut, buruh yang mau ribut, mau kenaikan 30%," jelas Ahok.
Dia mengatakan, penentuan UMP tahun depan harus adil, terutama dalam penghitungan KHL.
"Ya harus diperhatikan dong inflasi tahun depan berapa. Ya sudah tambah itu aja. Jadi enggak ada yang dikhawatirkan kok," ujar Ahok.
Sebelumnya, Dewan Pengupahan DKI Jakarta dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Asrial Chaniago mengatakan, industri padat karya seperti pabrik garmen dan sepatu paling terkena dampak kenaikan UMP. Beberapa wilayah di Indonesia mulai dilirik oleh pengusaha. Salah satu yang paling banyak diburu adalah Jawa Tengah karena diangga upah buruhnya masih rendah.
Rencana relokasi pabrik bukan tanpa sebab. Asrial mengungkapkan nilai KHL di DKI Jakarta tahun 2014 naik hampir mendekati 10% atau dari Rp 2.229.860 di tahun 2013 menjadi Rp 2.490.474,31 di tahun 2014. Terakhir, buruh meminta tambahan uang sebesar Rp 200.000/bulan.
(dnl/ang)










































