PT KCJ, anak usaha PT Kereta Api Indonesia (Persero) yang melayani dan mengoperasikan KRL, mencatat lalu lintas penumpang KRL sebanyak 600.000 orang per hari. Penumpang ini dilayani oleh 800 unit kereta. Dengan jumlah penumpang yang membludak, justru anak usaha KAI itu merasa bahagia.
"Kalau KRL penuh, kita senang," kata Direktur Utama PT KCJ Tri Handoyo di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Senin (10/1/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perpindahan ini dinilai sebagai sebuah pencapaian dari peningkatan pelayanan KRL sehingga pengguna kereta semakin banyak.
"Kita angkut orang sebanyak-banyaknya. Kalau nggak penuh, kita gagal pindahkan pengendara dari jalan ke kereta," jelasnya.
Alasan kedua adalah dari sisi pendapatan. Meski margin laba dari bisnis transportasi relatif tidak besar, PT KCJ setidaknya mampu mencicil utang kepada perbankan dari pendapatan yang diperoleh.
Pasalnya, PT KCJ membutuhkan dana Rp 830 miliar untuk memboyong kereta bekas sebanyak 860 unit dari Jepang. Sebanyak 80% pembiayaan berasal dari pinjaman perbankan.
"Total proyek Rp 830 miliar yang dipinjam selama 6 tahun untuk beli 860 KRL," ujarnya.
Tri memandang komplain penumpang sejauh ini bukan tertuju pada kapasitas armada yang selalu padat saat jam tertentu. Kritik justru diarahkan pada kondisi pendingin udara di dalam kereta dan kereta mogok.
"Yang dikomplain itu AC dan kereta mogok," tuturnya.
(feb/hds)











































