Impor kereta bekas untuk KRL Jabodetabek ini dilakukan untuk menekan ongkos produksi. Sehingga harga tiket bisa murah.
Direktur Utama KCJ Tri Handoyo mengatakan, setiap tahun, KCJ akan menerima kehadiran sekitar 160-an unit kereta bekas bekas dari Jepang. KCJ belum berniat membeli armada kereta baru dari dalam atau luar negeri untuk mendukung KRL Jabodetabek.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga kereta bekas per unit sebesar Rp 1 miliar, sedangkan kereta baru mencapai Rp 12 miliar per unit. Bila dipaksakan membeli kereta baru, tarif KRL yang dibebankan kepada penumpang bisa melambung tinggi.
"Selama 6 tahun. Itu yang kita beli terus dari Jepang. Kita nggak ada beli baru karena tarif sekarang relatif masih murah," kata Tri Handoyo di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Senin (10/1/2014).
Sementara itu, Kepala Humas KAI Makmur Syaheran menjelaskan, perseroan bisa saja membeli armada baru untuk memperkuat daya angkut KRL Jabodetabek. Namun ada konsekuensi yang harus ditanggung oleh pengguna KRL.
Harga tiket bisa menggelembung tinggi, padahal penumpang KRL tidak semua datang dari kalangan mampu. Bisa-bisa, harga tiket KRL Bogor-Jakarta Kota Rp 50.000 (belum subsidi), sementara saat ini tarif sekitar Rp 5.000, karena telah sudah disubsidi pemerintah sekitar Rp 4.000 per orang.
"Secara bisnis, kami selaku operator bisa beli armada baru. Tapi dengan harga tiket sekitar Rp 50.000, meski ada penumpang KRL ialah orang mampu tapi ada penumpang KRL yang penghasilan sesuai UMR," kata Makmur.
Di dalam perhitungan tarif, pihaknya memasukan perhitungan kemampuan daya beli penumpang KRL. Di samping harus tetap untung sesuai undang-undang perseroan terbatas, baik KAI ataupun KCJ juga harus memberikan layanan yang layak.
"KAI siap menerima penugasan untuk kereta perkotaan dan KCJ menerima penugasan untuk KRL, namun kita tetap harus untung nggak boleh negatif. Meski untung, itu akan dipakai investasi untuk peningkatan pelayanan," jelasnya.
Seperti diketahui, KAI melalui KCJ akan mendatangkan 860 unit KRL hingga 2019. Sehingga, KCJ akan memiliki armada KRL layak pakai sebanyak 1.400 unit. Armada ini nantinya dipakai melayani pergerakan penumpang sebanyak 1,2 juta orang per hari, sementara saat ini jumlah pergerakan penumpang mencapai 600.000 orang per hari.
(feb/dnl)











































