Lonjakan harga cabai juga terjadi karena penurunan produksi cabai yang diakibatkan serbuan hama penyakit. Kasus itu banyak ditemukan di mayoritas sentra produksi cabai di Jawa Timur (Jatim).
"30%-45% lahan cabai di Jatim itu kena virus (hama penyakit)," ungkap Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Jawa Timur Sukoco kepada detikFinance, Rabu (12/11/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nama hamanya Thrips, Tungau dan Kutu Myzuspersicae," imbuhnya.
Tanaman cabai yang terkena serangan ketiga hama tersebut akan menjadi kerdil, daunnya keriting dan tidak berbuah. Serangan hama ini dipicu suhu tinggi dan kekurangan air, akibatnya produksi cabai turun hingga 60%.
Kondisi ini diperparah dengan tingginya tingkat permintaan cabai menjelang hari raya Natal. Permintaan tidak hanya datang dari Jakarta tetapi beberapa daerah lain di Kalimantan dan Sumatera.
"Lalu masalah lainnya pada periode Juli-Agustus harga cabai di tingkat petani anjlok hanya Rp 1.500-2.500/kg akhirnya berpengaruh kepada kerugian petani dan pendanaan kurang. Masuk musim selanjutnya terjadi pengurangan besar-besaran akibat petani tidak memiliki modal," jelas Sukoco.
Harga cabai rawit merah di DKI Jakarta yang biasanya hanya Rp 25.000/kg, kini sudah mencapai Rp 45.000/kg atau naik 80%. Kenaikan juga terjadi pada cabai merah besar dari Rp 25.000/kg menjadi Rp 50.000/kg hingga 100%.
Harga cabai hijau rawit juga naik dari Rp 15.000/kg menjadi Rp 30.000/kg, naik 100%, dan cabai hijau besar dari Rp 20.000/kg menjadi Rp 45.000/kg.
Β
(wij/hen)











































