Siapa saja yang bertemu Susi kemarin di kantornya? Klik tautan di bawah ini untuk memulai.
Duta Besar Meksiko untuk Indonesia Melba Pria
|
|
Komentar Melba
|
|
Melba yang datang dengan mobil Nissan berplat CD 42 01 ini mengatakan penerapan teknik budidaya ikan bermanfaat bagi keberlanjutan dan kesejahteraan nelayan.
"Aqua culture untuk memberikan keuntungan yang lebih besar bagi nelayan Indonesia," katanya.
Gubernur Maluku Said Assagaf
|
|
Komentar Said Assagaf
|
Foto: Dokumentasi Kementerian Kelautan dan Perikanan
|
"Yang pertama terkait dengan masalah Maluku sebagai lumbung ikan nasional. Ibu menteri sangat respect sekali dan beliau berjanji akan memperjuangkan itu dalam satu payung hukum yang lebih luas baik Inpres (Instruksi Presiden) dan Keppres (Keputusan Presiden)," kata Said saat bertemu media di Gedung Mina Bahari I, kantor pusat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, Kamis (13/11/2014).
Menurut Said, potensi perikanan laut di Maluku cukup besar yaitu mencapai 1,6 juta ton per tahun. Bahkan dari jumlah itu, merupakan sepertiga potensi ikan nasional ada di Maluku.
"Maluku adalah lumbung ikan tuna terbesar di dunia. Ada 5.000 kapal yang beroperasi sekarang ini di Maluku," imbuhnya.
Said menambahkan dalam waktu dekat tepatnya bulan Desember, Menteri Susi akan berkunjung ke Maluku. Jika rencana ini terealisasi maka yang diuntungkan tidak hanya pemerintah daerah setempat tetapi seluruh masyarakat Maluku.
"Potensi yang ada di Maluku itu bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat sekitar karena angka kemiskinan kita masih cukup tinggi," jelasnya.
Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia Cho Tai Young
|
|
Dalam pertemuan yang berlangsung hampir 1 jam itu, Susi menyatakan ekspor produk perikanan ke Korea Selatan masih rendah. Nilainya sekitar kurang dari Rp 1 triliun per tahun atau US$ 80 juta.
"Ke depan kita ingin memperluas pasar, sekarang ekspor produk perikanan kita ke Korea baru US$ 80 juta per tahun," ungkap Susi.
Susi yang menggunakan pakaian kebaya putih dan selendang batik bermotif, melihat hal itu bisa terjadi karena peluang pasar di Korsel yang cukup besar. Apalagi mayoritas kebiasaan masyarat Korsel mengkonsumsi produk perikanan.
"Korea ini sangat besar pasarnya dan sama dengan Jepang, sama-sama banyak makan sea food. Potensi pasar masih cukup lebar," imbuhnya.
Selain peningkatan ekspor produk perikanan Indonesia ke Korsel, kedua negera tersebut menyepakati beberapa hal seperti penangkapan ikan yang berkelanjutan sesuai tata kelola internasional.
Komentar Cho Tai Young
|
|
"Saya senang bertemu dan berdiskusi dengan bu menteri dan Indonesia Korea itu teman dan sekarang kita bekerja sama di sektor kelautan dan perikanan," tuturnya.
"Kami sekarang berdiskusi dan melakukan MOU untuk hubungan dua negara. Kami akan terus meningkatkan hubungan ini. Ini yang saya akan menunjukan kepada kalian hari ini," katanya.
Halaman 2 dari 7











































