Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan kenaikan harga terjadi karena minimnya fasilitas penyimpanan sehingga menyebabkan cabai yang ada tidak dapat bertahan lama dan mudah busuk. Hal ini lebih dikenal dengan istilah teknologi pasca panen.
Menurut Sofyan, salah satu pengalihan anggaran subsidi BBM antara lain untuk pengadaan fasilitas penampungan produk cabai, pasca panen. Harapannya cabai petani memiliki daya tahan yang lebih baik, sehingga harganya tak anjlok atau dibuang karena busuk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, selama ini harga cabai sangat bergantung pada faktor cuaca. Selain musim tanam, masa panen yang tidak tepat juga sangat mempengaruhi harga jual cabai di pasar.
Musim kemarau, membuat para petani tidak bisa melakukan kegiatan pertanian. Hal tersebut memberi risiko tinggi lantaran rendahnya ketersediaan air yang dibutuhkan tanaman untuk dapat tumbuh.
Sementara itu, pada musim hujan juga ada risiko pada petani saat melakukan panen. "Karena kalau cabai dipetik dan terkena hujan, dia jadi mudah busuk. Jadi permasalahan-permasalahan ini yang membuat suplai cabai sangat bergantung pada cuaca," kata Sofyan.
Sofyan mengatakan agar para petani tak lagi bergantung pada cuaca, maka ketersediaan infrastruktur seperti fasilitas penampungan untuk segera direalisasikan. "storage ini harus kita pikirkan," pungkasnya.
Di tempat yang sama, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Hari Priyono menerangkan, kemarau panjang yang melanda Indonesia beberapa waktu belakangan telah mengakibatkan mundurnya waktu tanam sehingga menyebabkan terbatasnya pasokan produk pertanian seperti sayur mayur di pasar, termasuk cabai.
"Akhir tahun ini pertanian kita mengalami kemunduran masa tanam. Pelemahan produksi pangan terjadi karena selama 1,5 bulan kemarau," ujar Hari.
(dna/hen)











































