"Kalau naik, perkiraan saya 2-3% terjadi. Yang pasti itu makanan 2-3% naik," kata Sofjan di Hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu (19/11/2014).
Sementara produk industri, lanjut Sofjan, tidak akan langsung naik. Ini karena barang yang dijual saat ini sudah dibuat sebelum harga BBM naik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Potensi kenaikan yang tidak akan terlalu tinggi ini, tambah Sofjan, lantaran mempertimbangkan daya beli masyarakat. Apalagi ekonomi domestik tengah melambat.
"Saya melihat kita nggak bisa naikkan banyak (harga) barang kita. Ekonominya menurun, jadi kalau mahal-mahal orang juga nggak mau ambil," jelas dia.
Dengan kondisi tersebut, lanjut Sofjan, dunia usaha memang mengalami tekanan cukup besar. Biaya produksi dan operasional yang meningkat akibat kenaikan harga BBM bersubsidi tidak bisa diimbangi dengan harga jual produk yang terlalu tinggi.
Namun demikian, Sofjan tetap mendukung langkah pemerintah menaikkan harga BBM. Dia berharap hasil penghematan anggaran yang nilainya lebih dari Rp 100 triliun bisa segera dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur.
"Kalau infrastruktur bangunnya juga cepat, ekonomi jalan lagi. Orang akan banyak membeli beli barang-barang kita lagi. Jadi kita harapkan pemerintah lebih cepat," tegasnya.
(dna/hds)











































