Pihak Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Wilayah Sungai Pemali-Juwana menegaskan pembangunan proyek Bendung Simbang di Dukuh Simbang, Desa Kalimojosari, Doro, Pekalongan (Jawa Tengah), tak mangkrak 4 tahun.
Bendung yang mengairi 600 hektar lahan sawah di Pekalongan ini baru diperbaiki Maret 2014. Padahal kerusakannya sudah terjadi sejak Januari 2011.
Kepala Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Jaringan Pemanfaatan Air (PJPA) Balai Besar Wilayah Sungai Pemali-Juwana, Mulyadi menegaskan bahwa progres pembangunan bendung ini sudah 93%, bukan 70%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mulyadi mengakui memang untuk melakukan perbaikan terhadap bendung yang jebol ini butuh waktu. Anggaran perbaikan sekitar Rp 16 miliar.
"2011 mohon ke provinsi. Dari provinsi dapat permohonan 2012. Lalu 2012 baru diterima provinsi. Lalu kita bicarakan anggaran. Review desain 2012 oleh kabupaten. Selanjutnya review desain oleh balai besar wilayah sungai Pemali-Juana di tahun 2013. Melaksanakan desainnya. Karena kurang sempurna itu," jelas Mulyadi.
Hingga akhirnya, pembangunan mulai dilakukan Maret tahun ini atau kurang lebih 3 tahun setelah bendungan itu jebol dihantam banjir pada 4 Januari 2011.
"Desain ulang fix 2013. Setelah provinsi mohon pembangunan ke pusat. Baru di bangun 2014 akhir bulan Maret. Baru sekarang dibangun," tegas Mulyadi.
Sebelumnya Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengungkapkan penyebab mangkraknya proyek perbaikan Bendung Simbang di Dukuh Simbang, Desa Kalimojosari, Doro, Pekalongan, Jawa Tengah.
Bendung ini sangat dibutuhkan para petani di beberapa desa di Pekalongan untuk menyalurkan air ke irigasi. Bendung tersebut jebol sejak Januari 2011, namun baru mulai diperbaiki setahun berikutnya oleh Kementerian PU.
"Perbaikan baru 2012. terhambat birokrasi dan lainnya pencairan dana juga termasuk salah satu hambatan yang mengakibatkan keterlambatan pembangunan bendungan," kata Amran.
(hen/hds)











































