"Makanya yang dirugikan jelas konsumen karena selisih harganya cukup jauh," ungkap Ketua Asosiasi Agribisnis Jawa Timur Sukoco kepada detikFinance, Sabtu (22/11/2014).
Untuk memperbaiki panjangnya rantai distribusi ini, ia meminta kementerian perdagangan (Kemendag) segera memperbaiki sistem tata niaga cabai. Sistem tata niaga cabai yang ada saat ini diduga Sukoco masih belum efisien. Ketidakefisienan ini mempengaruhi fiuktuasi harga yang terjadi di tingkat konsumen, khususnya fluktuasi harga di tradisional DKI Jakarta.Β
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Sukoco tingginya harganya harga cabai saat ini sama sekali tidak merugikan para petani. Pasalnya harga jual cabai di tingkat petani per kg dinilai sudah cukup tinggi dibandingkan biaya produksi yang dikeluarkan. Contohnya harga jual cabai rawit merah petani Rp 40.000/kg, biaya produksinya hanya Rp 11.000/kg.
Namun ia mengatakan besarnya selisih keuntungan yang didapat petani digunakan untuk menutupi beban kerugian biaya produksi petani pada periode Juli-Agustus 2014. Saat periode itu, harga jual cabai di petani anjlok hanya Rp 1.500-3.000/kg.
"Harga jual cabai di petani saat ini sudah di atas BEP (Break Event Point/balik modal), tetapi tidak semua petani untung karena produktifitas cabai saat ini cukup rendah," imbuhnya.
(wij/dnl)











































